Tinjauan Mendalam Sepak Bola Indonesia: Tren, Isu, & Wawasan Eksklusif 2026

24 Januari 2026

Liga 1 2026 & Era Herdman: Membaca Permainan di Balik Kesenjangan Data | Tinjauan Mendalam aiball.world

A conceptual header image depicting a modern football tactical analysis board with data overlays, symbolizing the deep dive into Indonesia's 2026 football strategy.

Dunia sepak bola global bergerak dengan kecepatan data. Heatmaps, xG, dan metrik pressing intensity mendominasi analisis. Namun, saat kita mencari data mendalam tentang taktik Persib Bandung atau pola serangan Borneo FC di Liga 1 2025/2026, yang tersedia secara publik seringkali hanya klasemen dan sorotan momen. Di tengah kesenjangan data ini, John Herdman memulai tugasnya sebagai pelatih baru Timnas Indonesia, dan Liga 1 memasuki putaran kedua dengan persaingan yang ketat. Artikel ini adalah upaya untuk membaca permainan dengan alat yang ada, sekaligus mempertanyakan mengapa alat yang lebih baik untuk memahami sepak bola Indonesia begitu sulit ditemukan. Ini bukan hanya tinjauan musim; ini adalah pemeriksaan realitas ekosistem kita di tahun yang penuh tantangan: 2026.

Inti Analisis:
Analisis mendalam terhadap kondisi sepak bola Indonesia di awal 2026 mengungkap tiga narasi kunci. Pertama, kesenjangan data analitik (seperti xG dan PPDA) untuk Liga 1 yang masih lebar, memaksa kita mengandalkan metrik proxy seperti Performance Rating untuk membaca performa tim. Kedua, ASEAN Cup 2026 menjadi ujian taktis dan mental pertama yang krusial bagi John Herdman, di mana defisit xG Timnas di kualifikasi sebelumnya menjadi pekerjaan rumah utama. Ketiga, terdapat kontras tajam dalam pembinaan: antara visi jangka panjang Akademi ASIOP dan resistensi terhadap implementasi regulasi pemain U-20 di Liga 1, yang mencerminkan ketegangan antara pembangunan sistemik dan solusi jangka pendek.

The Narrative: Panggung yang Penuh Paradoks

Tahun 2026 dibuka dengan suasana yang kompleks. Kegagalan beruntun Timnas di tahun 2025—gagal lolos ke Piala Dunia 2026, Piala Asia U-23, dan target medali SEA Games—meninggalkan luka dan seruan untuk “reset total” sepak bola Indonesia. Di tengah kekecewaan itu, hadirlah John Herdman, pelatih asal Kanada dengan kontrak dua tahun, membawa janji baru dan filosofi tentang “menerima keberagaman sebagai kekuatan”. Agenda pun menumpuk: FIFA Series pada Maret, kemudian puncaknya adalah ASEAN Hyundai Cup pada Juli-Agustus, sebuah turnamen yang bagi Indonesia yang terluka menjadi lebih dari sekadar ajang regional; ini adalah laboratorium pemulihan dan pembuktian.

Sementara itu, di pentas domestik, Liga 1 menunjukkan persaingan sengit. Persib Bandung memimpin klasemen, diikuti ketat oleh Borneo FC dan Persija Jakarta. Namun, di balik tabel poin yang tampak jelas, terdapat cerita yang lebih dalam. Konflik sentral tahun ini adalah hasrat kita akan analisis canggih berbasis data, versus realitas terbatasnya akses terhadap metrik analitik modern untuk liga domestik. Sebuah penelitian terhadap sumber data terbuka mengungkap fakta: data seperti xG (expected goals) atau PPDA (passes per defensive action) untuk Liga 1 sangat sulit ditemukan di ranah publik. Kesenjangan ini bukan sekadar masalah teknis; ia adalah cermin dari tantangan yang lebih besar dalam profesionalisme dan infrastruktur sepak bola Indonesia.

The Analysis Core: Membongkar Realitas 2026

A symbolic illustration representing the contrast between advanced football analytics (for top leagues) and the basic data available for Indonesia's Liga 1.

Bagian 1: Membaca Liga 1 Melalui Kaca Pembesar “Performance Rating”

Di tengah kelangkaan data xG, kita masih bisa menggali wawasan. Sumber seperti Soccerstats menyediakan metrik Performance Rating, yang menawarkan perspektif berbeda dari sekadar poin. PR memberi bobot setara untuk kemenangan (1) dan seri (0.5), kemudian membandingkan performa tim dengan kekuatan rata-rata lawan yang dihadapi.

Data setelah 17 pertandingan mengungkap narasi yang menarik, yang dapat dilihat lebih jelas dalam tabel berikut:

TimPosisi (Poin)Performance Rating (PR)Rata-rata Kekuatan Lawan (pPPG)
Persebaya Surabaya7 (28 poin)59.2%54%
PSM Makassar12 (19 poin)48.1%56%
Semen Padang / Persijap15/16 (10 poin)31.1%Data tidak tersedia

Tabel ini menunjukkan bahwa Persebaya Surabaya memiliki PR yang lebih tinggi dari Bali United di posisi 8, mengindikasikan performa yang mungkin lebih baik dari yang tercermin di poin. PSM Makassar menghadapi jadwal yang relatif sulit (pPPG 56%), yang mungkin menjelaskan PR mereka yang sebanding dengan tim di posisi lebih atas meski poin lebih sedikit. Di ujung lain, Semen Padang dan Persijap Jepara secara jelas mengkonfirmasi status sebagai tim berkinerja terburuk.

Sebuah Pengakuan Jujur: Performance Rating adalah metrik sederhana. Ia tidak bisa menggantikan kedalaman analisis yang diberikan oleh xG untuk memahami kualitas peluang, atau PPDA untuk mengukur intensitas pressing. Fakta bahwa kita harus mengandalkan metrik ini sementara Timnas Indonesia sudah memiliki data xG yang tersedia (1.12 for, 1.22 against dalam kualifikasi Piala Dunia), semakin mempertegas kesenjangan antara level nasional dan domestik dalam hal akses dan penerapan analisis data.

Bagian 2: ASEAN Cup 2026: Ujian Taktis Pertama atau Jebakan Bagi Herdman?

A moody, conceptual scene of a coach contemplating tactics, with the pressure of the upcoming ASEAN Cup reflected in the environment.

ASEAN Cup bukan lagi sekadar turnamen biasa bagi Indonesia. Setelah enam kali menjadi runner-up, gelar pertama adalah obsesi. Bagi John Herdman, ini adalah ujian pertamanya di kancah regional, dan draw menempatkan Garuda di Grup A bersama Vietnam, Singapura, Kamboja, dan pemenang play-off Timor Leste/Brunei. Ini adalah laboratorium taktis yang sempurna.

  • Indonesia vs Vietnam (3 Agustus 2026): Duel Filosofi. Vietnam adalah rival taktis utama, tim yang sering menjadi tolok ukur perkembangan sepak bola ASEAN. Pertandingan ini akan menguji kemampuan Herdman membaca dan mengatasi tim yang terorganisir. Perkataan pemain Vietnam seperti Nguyễn Quang Hải tentang perlunya “peningkatan dan pengembangan lebih lanjut, baik dari segi personel maupun pendekatan taktis” melawan persaingan regional yang ketat, menunjukkan mindset progresif yang harus dihadapi Indonesia.
  • Indonesia vs Singapura (7 Agustus 2026): Ujian Mental. Singapura bukan lagi underdog. Mereka sedang dalam tren positif, naik 5 peringkat FIFA setelah kemenangan besar atas Vietnam. Pelatih mereka, Gavin Lee, secara terbuka menyatakan timnya “ingin diuji, ingin didorong, dan ditempatkan pada posisi yang tidak nyaman” sebagai persiapan. Ini adalah ujian mental melawan tim yang percaya diri.
  • Koneksi dengan Data: Apa yang bisa diceritakan data xG Timnas tentang pekerjaan rumah Herdman? Rata-rata xG Timnas adalah 1.12, sementara xG kebobolan 1.22. Defisit kecil ini, terutama saat bermain tandang (xG for hanya 0.64), mengisyaratkan masalah dalam menciptakan dan menekan peluang berkualitas di laga-laga penting. Memperbaiki ketidakseimbangan ini akan menjadi kunci di ASEAN Cup.

Bagian 3: Antara Akademi ASIOP dan Polemik U-20: Dua Wajah Pembinaan Indonesia

Jika ASEAN Cup adalah ujian hasil, maka fondasi masa depan diuji di tempat lain. Di sini, kita melihat dua wajah yang kontras dari pembinaan sepak bola Indonesia.

Di satu sisi, ada Akademi Sepak Bola ASIOP, yang baru-baru ini diapresiasi oleh Menpora Dito Ariotedjo. Fasilitas berstandar tinggi seperti Dormitory House of Champions dengan target menjadikan setengah dari 110 siswanya sebagai calon pemain timnas, mewakili investasi jangka panjang dan visi sistematis.

Di sisi lain, ada polemik regulasi pemain U-20 di Liga 1. PT LIB sempat mengusulkan agar klub hanya wajib mencantumkan dua pemain U-20 di daftar susunan pemain (DSP), tanpa kewajiban memainkannya, sebagai “jalan keluar” bagi klub yang keberatan. Usulan ini, meski akhirnya ditanggapi oleh PSSI, mengungkap resistensi terhadap aturan yang awalnya dibuat untuk memberi jam terbang bagi pemain muda jelang Piala Dunia U-20.

Kontras ini menyentuh inti kritik para ahli seperti Djoko Pekik Irianto dari Apkori, yang menilai program sepak bola Indonesia terlalu fokus pada “short-term/clash program” dan naturalisasi masif, mengabaikan pembinaan basis. Pertanyaan kritisnya: Apakah sistem kita secara organik mendukung perjalanan mulus seorang pemain berbakat dari akademi elit seperti ASIOP, melalui lapangan Liga 1 (dengan aturan main U-20 yang dihormati), hingga akhirnya ke Timnas? Atau jalurnya masih terputus-putus oleh kepentingan jangka pendek? Kontras ini secara langsung berkaitan dengan tantangan yang dihadapi Herdman: defisit xG Timnas dan kebutuhan akan pemain muda yang siap tempur di level internasional tidak akan teratasi jika jalur pembinaan dari akademi ke liga utama masih penuh hambatan dan inkonsistensi.

The Implications: Di Manakah Kita Berdiri?

Kesenjangan data untuk Liga 1 adalah lebih dari sekadar masalah statistik. Ia adalah gejala dari masalah yang lebih dalam: inkonsistensi dalam pencatatan, kurangnya transparansi, dan prioritas investasi yang mungkin belum sepenuhnya menyentuh infrastruktur analitik di level klub. Era John Herdman akan diuji bukan hanya di lapangan ASEAN Cup, tetapi dalam kemampuannya bernegosiasi dengan ekosistem domestik yang memiliki masalah struktural ini. Dapatkah seorang pelatih asing dengan filosofi modern menjadi katalisator perubahan, mendorong adopsi pendekatan yang lebih berbasis data di semua level? Atau akankah dia, seperti yang terjadi di sepak bola Tiongkok, terjebak dalam tantangan “interferensi administratif/politik dan fokus jangka pendek”?

Namun, ada ruang untuk optimisme yang realistis. Fokus pada pembinaan usia dini yang diusulkan para ahli, didukung oleh fasilitas seperti ASIOP, adalah fondasi yang benar. Jika diiringi dengan komitmen untuk meningkatkan kualitas data dan analisis di Liga 1—sehingga kita tidak lagi bergantung pada metrik proxy—maka siklus pembangunan yang berkelanjutan benar-benar bisa dimulai.

The Final Whistle

Tahun 2026 adalah tahun di mana sepak bola Indonesia berdiri di persimpangan. Di satu sisi, ada tuntutan analisis baru dan filosofi pelatihan modern yang dibawa John Herdman. Di sisi lain, ada realitas alat ukur lama dan struktur pembinaan yang masih mencari konsistensi. ASEAN Cup akan menjadi termometer pertama, tetapi pertarungan sesungguhnya terjadi di berbagai front: di meja rapat yang membahas regulasi pemain muda, di akademi yang membina bibit-bibit unggul, dan dalam komitmen kita untuk mencatat dan menganalisis setiap pertandingan Liga 1 dengan lebih baik.

Tahun ini, kita tidak hanya menyaksikan pertandingan. Kita mengamati apakah fondasi yang diletakkan—dari cara kita mengumpulkan data Liga 1 hingga cara kita menerapkan aturan untuk pemain muda—akan cukup kokoh untuk menopang mimpi yang lebih besar pasca-ASEAN Cup. Pertandingan sesungguhnya untuk masa depan sepak bola Indonesia mungkin sudah dimulai, jauh sebelum bola digulirkan di Grup A.


Tentang Penulis: Arif Wijaya adalah mantan analis data untuk klub Liga 1 papan atas yang kini menyalurkan passion-nya pada sepak bola ke dalam tulisan. Ia menggabungkan pemahaman insider tentang evolusi taktik sepak bola Indonesia dengan hati seorang penggemar, yang tidak pernah absen menyaksikan laga kandang Timnas dalam satu dekade.

Sintia Wijaya

Analis taktik sepak bola yang ahli dalam membedah formasi, strategi, dan performa pemain. Sintia memberikan wawasan mendalam tentang aspek teknis pertandingan Liga 1 dan Timnas.

On This Page

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Keep Reading

Scroll to Top