Persis Solo 2026: Data Mengekspos Jurang Antara Bintang Individu dan Kegagalan Kolektif | Analisis AIBall
Featured Hook:
Malam itu di Stadion Manahan, Solo, atmosfer istimewa. Kaesang Pangarep dan Presiden Joko Widodo hadir di tribun, memberikan dukungan moral yang jarang terjadi dalam laporan pertandingan. Namun, di atas lapangan, cerita yang terungkap adalah narasi yang sudah terlalu familiar bagi Laskar Sambernyawa musim ini. Persis Solo tumbang 0-1 dari Borneo FC, semakin terbenam di dasar klasemen dalam laporan pertandingan. Di permukaan, ini adalah kisah tentang tim yang kalah. Namun, data statistik pemain justru menceritakan sesuatu yang paradoks: di tengah kegagalan kolektif yang parah, beberapa individu justru mencatat angka-angka yang mengesankan. Di mana letak kesalahannya? Analisis mendalam mengungkap bahwa Persis Solo bukan sekadar tim yang kurang beruntung, melainkan sebuah studi kasus sempurna tentang “taktik yang terputus” dan “efisiensi yang menipu”.
Jawaban Inti (Answer Capsule):
Data mengungkap paradoks Persis Solo 2026: performa individu yang tampak solid (Kodai Tanaka 7 gol, Xandro Schenk sebagai ‘tembok’) berhadapan dengan kegagalan kolektif yang parah (hanya 2 menang, xG for 1.24, xG against 1.78). Akar masalahnya adalah jurang antara filosofi penguasaan bola pelatih Peter de Roo dan eksekusi di lapangan, menghasilkan ‘penguasaan bola yang mandul’, pertahanan yang rapuh secara sistemik, serta alokasi sumber daya skuad yang tidak optimal. Kegagalan ini adalah studi kasus klasik tentang ketidakselarasan antara visi, rekrutmen, dan pelatihan di Liga 1.
The Narrative:
Musim 2025/26 BRI Super League seharusnya menjadi titik balik bagi Persis Solo. Setelah finis di peringkat ke-14 musim lalu dan nyaris terdegradasi, manajemen melakukan “Great Overhaul” seperti dilaporkan dalam profil klub. Mereka merekrut pelatih asal Belanda, Peter de Roo, seorang penganut filosofi sepak bola proaktif berbasis penguasaan bola dengan formasi favorit 4-3-3 seperti dilaporkan dalam profil klub. Proyek ini dirancang sebagai investasi jangka panjang untuk membangun identitas permainan yang konsisten, beralih dari mentalitas bertahan menjadi tim dengan visi menyerang . Target realistis adalah finish di peringkat 8-12 .
Namun, kenyataan di lapangan jauh lebih suram. Setelah 17-18 pertandingan, Laskar Sambernyawa terpuruk di zona degradasi. Mereka hanya meraih 2 kemenangan, 4 imbang, dan sisanya adalah 11-12 kekalahan menurut data statistik. Lebih memilukan, mereka bahkan mengalami tren buruk 12 pertandingan tanpa kemenangan dan belum sekalipun menang di kandang sendiri seperti diberitakan. Dengan hanya 10 poin, mereka adalah salah satu tim terburuk di kompetisi . Di tengah krisis ini, wacana perombakan besar-besaran pemain asing mengemuka, dan Peter de Roo tampaknya telah digantikan oleh Milomir Seslija yang membawa pendekatan berbeda seperti dianalisis oleh media pendukung. Pertanyaan besarnya: ketika individu seperti Kodai Tanaka mencetak 7 gol atau Xandro Schenk dinilai sebagai “tembok pertahanan solid” seperti dianalisis oleh media pendukung, mengapa tim secara kolektif gagal total?
The Analysis Core:
Bagian 1: Serangan – Efisiensi yang Menipu dan Penguasaan Bola yang Mandul
-
Kodai Tanaka: Pencetak Gol di Padang Gurun Peluang.
Tidak dapat disangkal, Kodai Tanaka adalah pencapaian individu terbaik Persis musim ini. Dengan 7 gol dari 17 penampilan, ia adalah penyerang tersubur tim dan pilar penting . Namun, statistik ini menjadi menarik ketika dibandingkan dengan konteks tim. Persis Solo hanya menciptakan rata-rata 1.24 xG (Expected Goals) per pertandingan, salah satu yang terendah di liga menurut data FootyStats. Artinya, secara kolektif, tim ini hanya menghasilkan peluang yang diharapkan menghasilkan sedikit lebih dari satu gol per game. Pertanyaan kritisnya: apakah 7 gol Tanaka datang dari sejumlah kecil peluang berkualitas tinggi (menunjukkan efisiensi luar biasa), atau justru ia berhasil mengkonversi peluang-peluang sulit yang seharusnya tidak diharapkan menjadi gol? Tanpa data xG individu, kita dapat melihat indikator lain: tim hanya mencetak 20 gol sepanjang musim berdasarkan data statistik pertandingan. Jika Tanaka sendiri sudah menyumbang 7, berarti kontribusi pemain lain sangat minim. Ini mengisyaratkan serangan yang terlalu bergantung pada satu orang, mudah ditebak, dan tidak berlapis. -
Gervane Kastaneer & Krisis Konversi.
Pemain asing lainnya, Gervane Kastaneer, mulai menemukan ritme dengan 4 gol dari 13 penampilan . Namun, laporan analis juga menyebutkan bahwa ia “banyak buang peluang” . Pernyataan ini menguatkan narasi tentang inefisiensi di lini depan. Kastaneer mungkin mendapatkan banyak kesempatan (shots), tetapi persentase konversinya menjadi gol (conversion rate) kemungkinan rendah. Ini adalah gejala klasik dari tim yang terburu-buru dan kurang kompos dalam menyelesaikan serangan. -
Sistem vs. Realitas: Penguasaan Bola Tanpa Gigi.
Di sinilah paradoks terbesar terungkap. Filosofi Peter de Roo menekankan penguasaan bola untuk menciptakan dan mencetak gol . Data menunjukkan, dalam laga-laga seperti melawan Borneo FC, Persis bahkan mampu menguasai bola 51%, tidak jauh berbeda dari lawan berdasarkan data statistik pertandingan. Namun, dari penguasaan bola yang relatif seimbang itu, mereka hanya menghasilkan 20 gol, sementara Borneo menghasilkan 31 gol . Ini adalah bukti nyata “penguasaan bola yang mandul”. Tim mampu mempertahankan bola, tetapi gagal memindahkannya ke area berbahaya dengan kualitas yang memadai. Rata-rata xG 1.24 menurut data FootyStats mengkonfirmasi bahwa penguasaan bola mereka tidak diterjemahkan menjadi peluang jelas. Motor penggerak seperti Sho Yamamoto, yang diperpanjang kontraknya hingga 2027 , tampaknya tidak mampu secara konsisten menjadi penghubung yang efektif antara lini tengah dan depan dalam sistem ini.
Bagian 2: Pertahanan – Tembok Bernilai Tinggi yang Retak
-
Xandro Schenk: Aset Termahal di Kapal Karam.
Xandro Schenk bukan sekadar pemain. Dengan nilai pasar sekitar €300 ribu, ia adalah aset termahal di skuad Persis Solo . Ia direkrut sebagai komandan lini belakang baru, produk akademi Ajax Amsterdam, yang diharapkan dapat memulai serangan dari belakang sesuai filosofi de Roo . Di atas kertas, ia tampil solid dengan 2 gol dari 17 penampilan . Namun, statistik tim secara keseluruhan menceritakan kisah yang bertolak belakang. Persis Solo memiliki xG against (peluang yang diberikan ke lawan) sebesar 1.78 per pertandingan . Angka ini jauh lebih buruk daripada xG for mereka (1.24) dan menunjukkan bahwa pertahanan mereka rata-rata memberikan hampir dua peluang berbahaya kepada lawan setiap game. Schenk mungkin tampil baik dalam duel satu lawan satu atau membawa bola, tetapi secara kolektif, organisasi pertahanan tim sangat buruk. Nilai pasar tinggi seorang bek tidak berguna jika garis pertahanan secara keseluruhan mudah ditembus. -
Cleylton Santos dan Kerapuhan Sistemik.
Mitra Schenk, Cleylton Santos, juga disebut “krusial di lini belakang” dan menyumbang 2 gol . Namun, sekali lagi, kontribusi gol dari bek adalah indikator sekunder. Fungsi utama mereka adalah mencegah gol. Dengan rekor 12 pertandingan tanpa kemenangan dan hanya 2 clean sheet (berdasarkan konteks hasil), jelas fungsi utama ini tidak berjalan. Kegagalan ini lebih mungkin disebabkan oleh masalah sistemik—seperti garis yang tidak kompak, transisi yang lambat saat kehilangan bola, atau tekanan yang tidak terkoordinasi—daripada semata-mata kesalahan individu kedua bek tengah tersebut.
Bagian 3: Konstruksi & Nilai Pasar – Investasi yang Salah Arah?
-
Komposisi Skuad dan Alokasi Sumber Daya.
Data Transfermarkt memberikan gambaran menarik. Total nilai pasar skuad Persis Solo sekitar Rp73,18 miliar menurut data Transfermarkt. Posisi dengan nilai total tertinggi adalah bek (Rp26,51 miliar) dan penyerang (Rp20,86 miliar) menurut data Transfermarkt. Sementara itu, rata-rata usia tim adalah 27,2 tahun, dengan lini belakang sebagai yang tertua (28,3 tahun) . Konfigurasi ini—sumber daya besar di lini belakang yang menua dan ketergantungan pada penyerang individu—tampaknya tidak sejalan dengan filosofi penguasaan bola dan proyeksi jangka panjang. Filosofi seperti itu membutuhkan lini tengah yang kreatif, dinamis, dan bernilai tinggi sebagai motor utama. Kenyataan bahwa tim berada di dasar klasemen dengan komposisi nilai pasar seperti ini menunjukkan kemungkinan alokasi sumber daya yang tidak optimal atau pemain yang tidak cocok dengan sistem yang diinginkan.Alokasi Nilai Pasar Skuad (Transfermarkt):
- Bek: Rp26,51 M (nilai tertinggi)
- Penyerang: Rp20,86 M
- Rata-rata Usia Tim: 27,2 tahun (Bek: 28,3 tahun)
The Implications:
Data-data ini memberikan konteks yang sangat jelas untuk gejolak yang terjadi di internal klub. Wacana untuk merombak tujuh dari sembilan pemain asing bukanlah kepanikan semata, melainkan respons terhadap ketidakcocokan yang terlihat dalam angka. Pergantian pelatih dari Peter de Roo ke Milomir Seslija—yang langsung mendepak banyak pemain asing dan membawa pemainnya sendiri —adalah pengakuan bahwa proyek “filosofi jangka panjang” telah gagal di tahap eksekusi.
Manajemen kini berada pada tahap finalisasi perekrutan pelatih baru seperti diberitakan. Calon pelatih ini diwawancara untuk mengetahui rencana jangka pendek perbaikan tim . Berdasarkan analisis data, siapapun pelatih baru itu harus menjawab pertanyaan mendasar: Apakah akan memaksakan sistem tertentu dan mencari pemain yang cocok, atau membangun sistem berdasarkan kekuatan pemain yang ada (dan yang akan dipertahankan)?
Untuk membangun tim yang fungsional, fokus harus bergeser. Bukan lagi mencari “pencetak gol” atau “bek tangguh” secara individual, melainkan membangun unit yang kohesif. Pertanyaan kritisnya adalah: bagaimana menciptakan lebih dari 1.24 xG per game? Bagaimana mengurangi xG against dari 1.78? Jawabannya mungkin terletak pada merekrut gelandang kreatif murni, mereorganisasi pola tekanan, atau meningkatkan mobilitas lini tengah.
The Final Whistle:
Laporan performa Persis Solo musim 2026 adalah sebuah paradoks yang diungkap oleh data: bintang individu bersinar di tengah kegelapan kolektif. Kodai Tanaka dan Xandro Schenk memiliki statistik pribadi yang layak, tetapi mereka seperti pulau-pulau terpencil di lautan taktik yang kacau. Kegagalan ini bukan tentang kurangnya bakat, melainkan tentang jurang yang menganga antara filosofi pelatih, profil pemain yang direkrut, dan eksekusi di lapangan.
Kisah mereka adalah peringatan bagi seluruh Liga 1 tentang pentingnya keselarasan antara visi, rekrutmen, dan pelatihan. Membeli pemain dengan nilai pasar tinggi atau merekrut pelatih dengan filosofi mentereng tidak ada artinya jika tidak ada kesinambungan di antara semua elemen tersebut.
Kedepan, tantangan terbesar bukan lagi sekadar menghindari degradasi, melainkan menemukan identitas yang benar-benar fungsional. Apakah akan kembali ke pragmatisme atau tetap berpegang pada cita-cita permainan menawan? Apapun pilihannya, keputusan harus didasarkan pada pembelajaran dari data musim ini yang telak: di sepak bola modern, statistik individu yang gemilang adalah hiasan yang sia-sia jika tidak tertanam dalam sebuah sistem yang efektif. Performansi ini akan menjadi studi kasus yang berharga bagi manajemen klub dalam membangun identitas yang benar-benar fungsional di Liga 1.
Tentang Penulis: Arif Wijaya adalah seorang mantan analis data untuk klub Liga 1 papan atas yang kini menyalurkan passion-nya pada sepak bola melalui tulisan. Ia menggabungkan pemahaman insider tentang evolusi taktik sepak bola Indonesia dengan hati seorang fans yang tidak pernah absen menyaksikan laga kandang Timnas selama satu dekade. Untuk analisis mendalam lainnya, kunjungi kategori Analisis Lanjutan kami.