
Sebagai mantan analis data untuk klub papan atas di Liga 1, saya selalu percaya bahwa angka-angka di atas kertas adalah detak jantung dari drama yang terjadi di atas rumput hijau. Bagi banyak orang, statistik mungkin hanya sekumpulan digit yang membosankan. Namun, bagi saya, Arif Wijaya, setiap angka menceritakan sebuah kisah: tentang keringat di sesi latihan Ternate, tentang pergeseran taktis di bangku cadangan Si Jalak Harupat, dan tentang ambisi yang membara di setiap stadion dari ujung barat hingga timur Indonesia.
Memasuki akhir Januari 2026, Liga 1 BRI telah bertransformasi. Kita tidak lagi melihat liga yang hanya mengandalkan fisik dan lari tanpa arah. Sebaliknya, data menunjukkan adanya evolusi intelektual yang luar biasa. Apakah tim dengan penguasaan bola tertinggi selalu keluar sebagai pemenang? Data menunjukkan cerita yang berbeda. Mari kita bedah lebih dalam bagaimana statistik mendefinisikan ulang peta kekuatan sepak bola kita per 31 Januari 2026.
Ringkasan Statistik Utama (Januari 2026)
- Pemimpin Klasemen: Persib Bandung (41 poin)
- Top Skor: Maxwell Souza (12 gol)
- Top Assist: Mariano Peralta (8 assist)
- Kiper Terbaik: Teja Paku Alam (9 clean sheets)
Paradoks Penguasaan Bola dan Munculnya Era Efisiensi Taktis

Salah satu temuan paling menarik dalam analisis putaran kedua musim 2025/2026 adalah pergeseran dari estetika menuju efisiensi. Selama bertahun-tahun, penggemar sepak bola Indonesia mendambakan permainan “tiki-taka” atau penguasaan bola dominan. Namun, tim-tim besar musim ini mulai menyadari bahwa menguasai bola tanpa struktur defensif yang solid hanyalah resep menuju kegagalan.
Ambil contoh Borneo FC Samarinda. Dalam beberapa pertandingan krusial, termasuk saat melawan Persis Solo, Pesut Etam hanya mencatatkan penguasaan bola sebesar 45%. Secara tradisional, angka ini mungkin dianggap sebagai kekalahan dalam kendali permainan. Namun, kenyataannya Borneo FC justru mengontrol laga melalui organisasi defensif yang sangat disiplin dan transisi serangan balik yang mematikan. Dengan nilai Passes Per Defensive Action (PPDA) sebesar 9.0, mereka menunjukkan intensitas tinggi dalam menutup ruang lawan sebelum bola masuk ke area berbahaya.
Fenomena ini juga terlihat pada Persija Jakarta di bawah asuhan Mauricio Souza. Ada perubahan filosofi yang sangat nyata: menang lebih penting daripada sekadar bermain cantik. Statistik menunjukkan bahwa variasi progresi bola Persija kini lebih beragam, tidak lagi terjebak dalam pola yang mudah ditebak. Strategi ini terbukti efektif dalam meningkatkan kreasi peluang tanpa harus mengekspos lini belakang secara berlebihan.
Peta Kekuatan Klasemen: Perang Tiga Serangkai di Puncak
Hingga pekan ke-19, persaingan di papan atas klasemen Liga 1 BRI 2026 menjadi salah satu yang paling sengit dalam satu dekade terakhir. Jarak antara peringkat pertama dan ketiga sangat tipis, membuat setiap kesalahan kecil bisa berakibat fatal bagi ambisi juara.
| Peringkat | Klub | Poin | Status |
|---|---|---|---|
| 1 | Persib Bandung | 41 | Pemimpin Klasemen |
| 2 | Borneo FC | 40 | Penantang Utama |
| 3 | Persija Jakarta | 38 | Tren Positif |
| 4 | Malut United | 37 | Kuda Hitam |
Persib Bandung: Konsistensi Sang Juara Bertahan
Persib Bandung tetap kokoh di puncak dengan 41 poin. Keunggulan utama Maung Bandung musim ini adalah kedalaman skuat dan kematangan mental. Di bawah asuhan Bojan Hodak, mereka jarang melakukan kesalahan konyol di lini belakang. Fokus mereka bukan pada dominasi total, melainkan pada stabilitas. Namun, dengan hanya selisih satu poin dari Borneo FC, posisi mereka jauh dari kata aman.
Borneo FC: Master Strategi Transisi
Dengan 40 poin, Borneo FC adalah tim yang paling efisien secara taktis. Mereka adalah tim yang paling sering menghukum kesalahan lawan. Data menunjukkan mereka mencatatkan 8 high turnovers (merebut bola di area lawan) yang berujung pada peluang berbahaya dalam laga-laga besar. Ini adalah bukti bahwa strategi menekan mereka bekerja secara sistematis.
Persija Jakarta: Efisiensi Mauricio Souza
Macan Kemayoran duduk di peringkat ketiga dengan 38 poin setelah kemenangan krusial 2-0 atas Madura United. Yang paling menarik dari Persija adalah penurunan angka PPDA mereka dari 12.5 menjadi 8.2 di babak kedua pertandingan tersebut. Angka yang lebih rendah berarti intensitas tekanan mereka meningkat tajam. Persija kini menjadi tim yang sangat melelahkan bagi lawan karena mereka tidak membiarkan lawan bernapas lama saat memegang bola.
Bedah Statistik Individu: Siapa Pemilik Angka Tertinggi?

Di balik performa kolektif tim, ada individu-individu yang menonjol dengan statistik yang memukau. Musim 2026 melahirkan bintang-bintang baru sekaligus menegaskan dominasi nama-nama lama.
Maestro Lini Tengah: Raja Operan dan Kreativitas
Jika kita berbicara tentang siapa yang mengatur ritme permainan di Liga 1, nama Alexis Messidoro dari Dewa United masih belum tergantikan. Messidoro memimpin daftar passing leader dengan total 984 operan sukses. Kemampuannya mendistribusikan bola menjadikannya poros utama permainan Dewa United.
Namun, efisiensi sejati sering kali datang dari Stefano Lilipaly di Borneo FC. Meskipun jumlah sentuhan bolanya rata-rata hanya 45 per pertandingan, akurasi operannya mencapai angka luar biasa, yakni 92%. Lilipaly bukan sekadar pengoper; ia adalah rhythm regulator yang tahu kapan harus mempercepat atau memperlambat tempo. Football IQ yang tinggi ini menjadikannya aset tak ternilai.
Pemimpin Assist Liga 1 (Januari 2026):
| Pemain | Klub | Assist |
|---|---|---|
| Mariano Peralta | Borneo FC | 8 |
| Rayco Rodriguez | Persita Tangerang | 7 |
| Tyronne del Pino | Malut United | 6 |
Sniper di Depan Gawang: Perebutan Sepatu Emas
Per 31 Januari 2026, Maxwell Souza dari Persija Jakarta memimpin daftar pencetak gol terbanyak dengan 12 gol. Maxwell adalah prototipe penyerang modern yang sangat efisien di dalam kotak penalti.
Top Skor Liga 1 (Januari 2026):
| Pemain | Klub | Gol |
|---|---|---|
| Maxwell Souza | Persija Jakarta | 12 |
| Dalberto | Arema FC | 10 |
Data menarik muncul dari Persita Tangerang. Meskipun mereka sering kesulitan mencetak gol secara konsisten, 65% tembakan mereka justru datang dari luar kotak penalti. Ini menunjukkan adanya masalah dalam menembus blok rendah lawan, sebuah tren yang juga sering dialami oleh tim-tim di kasta menengah Liga 1.
Analisis Pertahanan: Perang Antara Kiper dan Penyerang
Sering kali kita terlalu fokus pada siapa yang mencetak gol, sampai kita lupa pada mereka yang mencegahnya. Musim ini, peran penjaga gawang menjadi sangat krusial karena rata-rata pelanggaran liga mencapai 23.28 per pertandingan, yang sering kali berujung pada situasi bola mati yang berbahaya.
Tembok Terakhir yang Tak Tergoyahkan
Teja Paku Alam (Persib Bandung) terus menunjukkan mengapa ia adalah salah satu kiper terbaik di Indonesia. Dengan 9 clean sheets dan rasio nirbobol sebesar 64.7% (11 dari 17 laga menurut data terbaru), Teja adalah alasan utama mengapa Persib sangat sulit dikalahkan. Ketenangannya dalam situasi satu lawan satu memberikan rasa aman luar biasa bagi lini belakang Maung Bandung.
Di sisi lain, ada pahlawan yang kurang diapresiasi: Mike Hauptmeijer dari Bali United. Meskipun jumlah nirbobolnya sedikit di bawah Teja (8 clean sheets), Hauptmeijer mencatatkan jumlah penyelamatan terbanyak di liga dengan 73 penyelamatan. Ini menunjukkan bahwa meskipun pertahanan Bali United sering ditembus, Hauptmeijer adalah orang yang berdiri paling teguh untuk menyelamatkan poin timnya.
Fenomena Malut United dan Kebangkitan Kekuatan Timur
Salah satu cerita paling inspiratif musim ini adalah performa luar biasa Malut United. Sebagai tim promosi, banyak yang memprediksi mereka hanya akan numpang lewat. Namun, mereka justru duduk manis di peringkat keempat dengan 37 poin.
Keberhasilan Malut United bukan sebuah kebetulan. Mereka sempat mencatatkan rekor impresif 11 pertandingan tak terkalahkan sebelum akhirnya dihentikan oleh Persebaya. Kunci kekuatan mereka ada di Stadion Gelora Kie Raha, Ternate. Bermain di Ternate memberikan faktor psikologis dan atmosfer yang sangat sulit diatasi oleh tim tamu.
Kemenangan telak 6-2 atas PSBS Biak pada 4 Januari 2026 menjadi pernyataan tegas dari Laskar Kie Raha. Dalam laga tersebut, Tyronne del Pino tampil sebagai aktor intelektual di lini tengah. Tyronne menunjukkan bahwa dengan visi yang tepat, seorang playmaker bisa mengobrak-abrik pertahanan lawan yang paling rapat sekalipun. Keberadaan Malut United membuktikan bahwa pusat kekuatan sepak bola Indonesia mulai bergeser dan mendisrupsi hegemoni klub-klub tradisional di Jawa.
Jembatan Menuju Timnas: Catatan untuk Shin Tae-yong
Sebagai pengamat yang selalu mendukung perkembangan Tim Nasional (Timnas), saya melihat data Liga 1 musim ini memberikan banyak petunjuk bagi pelatih Shin Tae-yong (STY). Kita sering melihat Timnas mendominasi penguasaan bola saat melawan tim seperti Australia atau Irak, namun seringkali berakhir buruk karena kurangnya efisiensi dan kerentanan terhadap serangan balik. Untuk analisis lebih lanjut tentang tantangan dan tujuan pengembangan Timnas, Anda dapat membaca artikel-artikel mendalam di blog kami.
Beberapa pemain dari Liga 1 harus mendapatkan perhatian khusus dalam radar STY:
- Marselino Ferdinan: Meskipun statistik golnya mungkin tidak mencolok, kontribusi xG (expected goals) miliknya berada di angka 0.65. Ia tetap menjadi kunci dalam skema penyerangan, meski data menunjukkan ia perlu meningkatkan performa dalam duel fisik (saat ini hanya memenangkan 33% duel udara) jika ingin bersaing di level Asia.
- Stefano Lilipaly: Akurasi operannya yang mencapai 92% adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan Timnas saat menghadapi tekanan tinggi (high pressing) dari tim lawan. Pengalaman dan Football IQ Lilipaly bisa menjadi penenang di tengah intensitas pertandingan internasional yang gila.
- Saddil Ramdani: Bermain untuk Bhayangkara FC, Saddil mencatatkan rata-rata 5 percobaan dribel per pertandingan. Meskipun tingkat keberhasilannya baru mencapai 40%, inisiatifnya untuk membongkar pertahanan lawan adalah aset yang jarang dimiliki pemain lain.
Kesimpulan: Evolusi Menjadi Arena Catur Taktis
Melihat data yang tersaji hingga 31 Januari 2026, Liga 1 BRI telah bertumbuh melampaui ekspektasi. Kita melihat munculnya kekuatan baru dari Timur seperti Malut United, efisiensi pragmatis dari Persija dan Borneo FC, serta konsistensi baja dari Persib Bandung.
Statistik memberi tahu kita bahwa era “asal lari” telah berakhir. Sekarang adalah era efisiensi ruang, manajemen tempo, dan kecerdasan taktis. Pemain seperti Alexis Messidoro dan Stefano Lilipaly membuktikan bahwa otak lebih penting daripada sekadar otot di lini tengah. Sementara itu, kiper seperti Mike Hauptmeijer mengingatkan kita bahwa setiap poin sering kali diselamatkan oleh ujung jari seorang penjaga gawang yang waspada.
Satu hal yang pasti, data menyarankan cerita yang berbeda dari apa yang kita lihat di permukaan. Sepak bola Indonesia sedang bergerak ke arah yang benar—menjadi lebih cerdas, lebih kompetitif, dan lebih menarik untuk dianalisis.
The Final Whistle:
Dominasi Persib di puncak klasemen memang mengesankan, namun tren PPDA Persija dan efisiensi transisi Borneo FC adalah ancaman nyata yang tidak boleh diabaikan. Dengan data di atas, apakah Anda masih percaya bahwa menyerang habis-habisan tanpa perhitungan adalah cara terbaik untuk meraih gelar juara musim ini?
Tentang Penulis: Arif Wijaya adalah seorang mantan analis data untuk klub papan atas Liga 1 yang kini mendedikasikan dirinya untuk membedah evolusi taktis sepak bola Indonesia. Sebagai suporter setia Timnas yang telah mengikuti setiap laga kandang selama satu dekade, ia menggabungkan analisis berbasis data dengan pemahaman mendalam tentang budaya sepak bola lokal.