Paul Merson: Liverpool Tanpa Mohamed Salah Sulit Raih Trofi

23 Desember 2025

Analisis Paul Merson: Mengapa Liverpool Tanpa Mohamed Salah Hanyalah Sejarah Tanpa Trofi

liverpool-salah-merson-cover

Oleh: Tim Editorial AIBall.World

Dalam lanskap sepak bola modern yang semakin didorong oleh data dan efisiensi taktis, konflik internal antara pemain bintang dan manajemen sering kali menjadi titik balik bagi performa sebuah klub. Situasi terkini di Anfield yang melibatkan Mohamed Salah dan manajer Arne Slot telah memicu perdebatan luas. Namun, melalui lensa analitis dan pengamatan ahli dari Paul Merson, kita mendapatkan gambaran yang lebih jernih: Liverpool berisiko kehilangan identitas kompetitifnya jika mengabaikan kontribusi fundamental dari bintang asal Mesir tersebut.

Artikel ini akan membedah argumen Merson, menyoroti metrik kinerja Salah, dinamika taktis di sayap kanan, dan implikasi jangka panjang bagi The Reds.

Hegemoni Statistik: Lebih dari Sekadar Angka

Paul Merson, dalam pembelaannya yang vokal terhadap Salah, menyoroti sebuah fakta yang didukung oleh data historis: lemari trofi Liverpool akan jauh lebih kosong tanpa intervensi Mohamed Salah. Pernyataan Salah baru-baru ini, yang merasa “dikorbankan” oleh klub, bukanlah sekadar keluhan emosional, melainkan refleksi dari seorang pemenang yang memahami nilai kontribusinya.

Dari perspektif analitis, Salah adalah anomali statistik. Konsistensi output gol dan assist-nya selama bertahun-tahun berada di level yang disebut Merson sebagai “di luar grafik.” Dalam era di mana model Expected Goals (xG) dan Expected Assists (xA) menjadi tolok ukur, Salah secara konsisten melampaui ekspektasi tersebut. Merson berpendapat bahwa kita mungkin tidak akan pernah melihat angka-angka seperti ini lagi dari seorang pemain sayap di Premier League.

Keputusan Slot untuk mencadangkan Salah, terutama setelah hasil imbang 3-3 yang mengecewakan melawan Leeds dan kemudian tidak membawanya ke laga melawan Inter Milan, memunculkan pertanyaan tentang manajemen aset bernilai tinggi. Merson menegaskan bahwa rasa frustrasi Salah—yang muncul karena keinginan murni untuk bermain dan menang—adalah reaksi wajar dari seorang legenda yang menyadari bahwa waktu kariernya terbatas.

Keruntuhan Struktur Taktis Sayap Kanan

Salah satu wawasan paling tajam yang disampaikan Merson—dan sangat relevan dengan analisis taktis AIBall.World—adalah mengenai perubahan ekosistem di sayap kanan Liverpool. Penurunan performa Salah tidak dapat dilihat dalam ruang hampa; hal ini berkorelasi langsung dengan hilangnya mitra strategisnya, Trent Alexander-Arnold.

Efek Domino Kepergian Alexander-Arnold

Merson mengidentifikasi kegagalan manajemen Liverpool dalam mengantisipasi dampak taktis dari kepergian Alexander-Arnold. Pergantian personil di posisi bek kanan—mulai dari Conor Bradley, Dominik Szoboszlai (yang dipaksa bermain di luar posisi), hingga Curtis Jones—telah menciptakan ketidakstabilan formasi. Bahkan kedatangan Jeremie Frimpong, yang profilnya lebih menyerang daripada bertahan, belum mampu mereplikasi sinergi yang hilang.

Secara taktis, Merson menjelaskan dinamika yang sebelumnya terjadi:

  1. Era Alexander-Arnold: Sebagai pengumpan terbaik di liga, Alexander-Arnold memaksa lawan untuk melakukan engage (menekan) sejak garis tengah. Kehadirannya menarik perhatian lawan, menciptakan ruang isolasi bagi Salah.
  2. Era Pasca-Alexander-Arnold: Tanpa ancaman distribusi bola dari bek kanan di garis tengah, lawan kini menerapkan strategi double-team terhadap Salah tanpa rasa takut. Tim lawan berpikir, “Biarkan bek kanan membawa bola, kita fokus mematikan Salah.”

Perubahan variabel ini secara drastis menurunkan efisiensi Salah, bukan karena penurunan kemampuan individu semata, melainkan karena struktur pendukung yang runtuh. Merson membandingkan situasi ini dengan pengalamannya bermain bersama John Barnes, di mana fokus pertahanan lawan yang berlebihan pada satu pemain bintang akan melumpuhkan serangan jika tidak ada dukungan yang memadai.

Paradoks “Pemain Terbaik yang Terburuk”

Dalam analisis sepak bola, sering kali terdapat bias resensi di mana performa terakhir mengaburkan kontribusi jangka panjang. Merson menggunakan istilah paradoks untuk menggambarkan Salah: “Pemain terbaik yang terburuk” (The best worst player).

Ini merujuk pada karakteristik unik Salah yang mampu tampil di bawah standar sepanjang pertandingan namun tetap mencetak gol penentu kemenangan.

  • Volatilitas Performa: Ada hari-hari di mana sentuhan dan keterlibatannya tampak minim, memicu pertanyaan tentang “hype” di sekitarnya.
  • Dampak Akhir: Namun, data menunjukkan bahwa Salah memiliki kemampuan elit untuk muncul di momen krusial, terlepas dari seberapa buruk permainannya di menit-menit sebelumnya.

Merson mempertanyakan kebijaksanaan manajerial dalam mencadangkan pemain dengan profil risiko/imbalan seperti ini. Ketika tim sedang berjuang menemukan bentuk permainan, menyingkirkan satu-satunya pemain yang bisa mencetak gol “dari mana saja” adalah langkah yang kontra-intuitif.

Mengalihkan Beban Pertahanan

Kritik yang sering dilontarkan kepada Salah musim ini adalah kurangnya kontribusi defensif atau tracking back. Laporan terbaru menyalahkan Salah atas kerapuhan pertahanan Liverpool. Namun, Merson menolak narasi ini dengan tegas.

Berdasarkan analisis peran, Salah tidak pernah didesain untuk menjadi pemain sayap defensif. Kekuatannya adalah transisi cepat dan penyelesaian akhir. Merson berargumen bahwa mengharapkan Salah mundur ke belakang adalah alokasi sumber daya yang tidak efisien. Masalah pertahanan Liverpool bersifat sistemik dan kolektif, bukan akibat dari satu pemain depan yang tidak turun membantu pertahanan. Salah, dalam hal ini, menjadi “tameng” bagi pemain lain yang performanya juga mengecewakan.

Kesimpulan: Tanda Bahaya Sistemik

Pembelaan Merson terhadap Salah menyingkap masalah yang lebih dalam di tubuh Liverpool. Kegagalan mengalahkan tim-tim promosi seperti Leeds dan Sunderland bukanlah anomali, melainkan indikator tren penurunan kualitas. Merson mencatat bahwa jika Liverpool menang 5-0 tanpa Salah, sang pemain mungkin akan diam. Namun, ketika tim gagal meraih hasil positif melawan tim yang lebih lemah, wajar jika pemain andalan merasa frustrasi karena tidak dilibatkan.

Sebagai platform yang mengedepankan wawasan data, AIBall.World melihat situasi ini sebagai peringatan. Jika Liverpool terus mengabaikan konteks taktis (seperti dukungan bek kanan) dan hanya berfokus pada friksi personal, mereka berisiko kehilangan aset terbesar mereka. Seperti yang disimpulkan Merson: jika Salah tidak segera dikembalikan ke dalam tim inti dan sistem taktis tidak diperbaiki untuk mengakomodasi kekuatannya, perpisahan mungkin menjadi solusi terbaik—namun itu akan menjadi kerugian monumental bagi sejarah Liverpool.

Johan Ardian

Mantan pelatih dan analis taktik sepak bola yang kini fokus pada integrasi teknologi AI untuk meningkatkan strategi permainan. Memberikan perspektif unik dari lapangan dengan dukungan data.

On This Page

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Keep Reading

Scroll to Top