Analisis Krisis Bernabeu: Xabi Alonso, Dukungan Bellingham, dan Ketidakpastian Masa Depan Real Madrid

Oleh: Tim Analisis AIBall.World
Kembalinya Xabi Alonso ke Real Madrid sebagai pelatih kepala awalnya diproyeksikan sebagai langkah strategis jangka panjang, mengingat rekam jejaknya yang gemilang sebagai salah satu arsitek muda paling brilian di sepak bola dunia. Namun, data terkini menunjukkan pergeseran tren yang mengkhawatirkan. Hanya enam bulan setelah mengambil alih kemudi, masa depan Alonso kini berada dalam zona ketidakpastian yang tinggi. Kekalahan taktis terbaru melawan mentor lamanya, Pep Guardiola, telah memperdalam narasi krisis yang sedang berlangsung di ibu kota Spanyol.
Metrik Performa: Divergensi Antara Usaha dan Hasil
Analisis pasca-pertandingan dari kekalahan 1-2 melawan Manchester City di Liga Champions mengungkapkan sebuah anomali. Secara visual dan statistik, performa Real Madrid bukanlah cerminan dari tim yang telah menyerah pada pelatihnya. Intensitas tekanan dan volume peluang menunjukkan bahwa para pemain bertarung hingga peluit akhir.
Namun, dalam ekosistem elit seperti Real Madrid, effort saja tidak cukup tanpa konversi hasil. Statistik menunjukkan tren negatif yang signifikan: kekalahan berturut-turut di Santiago Bernabeu dan catatan hanya dua kemenangan dalam delapan pertandingan terakhir. Posisi Alonso kini sangat rentan secara statistik, mengingat sejarah manajerial klub di bawah Florentino Perez jarang mentolerir deviasi performa seperti ini.
Meskipun laporan awal mengindikasikan bahwa kekalahan di Bernabeu bisa memicu pemecatan instan, respons dari ruang ganti dan analisis media Spanyol menunjukkan bahwa manajemen masih menahan keputusan drastis. Namun, jendela waktu untuk perbaikan taktis semakin menyempit bagi legenda Madrid tersebut.
Dinamika Internal: Jude Bellingham Sebagai Indikator Kohesi
Di tengah spekulasi eksternal, Jude Bellingham memberikan data kualitatif penting mengenai kondisi ruang ganti. Bintang Inggris tersebut menegaskan bahwa skuad berada “100 persen” di belakang Alonso, sebuah pernyataan yang krusial untuk menepis rumor perpecahan.
“Manajer bersikap luar biasa,” ungkap Bellingham kepada TNT Sports, memberikan wawasan tentang manajemen manusia Alonso. “Saya pribadi memiliki hubungan yang sangat baik dengannya, dan saya tahu banyak pemain lain juga demikian.”
Pernyataan Bellingham menyoroti ketahanan mental tim. “Setelah serangkaian hasil imbang, kami melakukan percakapan internal yang konstruktif dan merasa telah meninggalkan performa buruk itu. Tidak ada yang menyerah, tidak ada yang mengeluh. Kami menerima pukulan ini dan terus berjuang.”
Lebih lanjut, analisis Bellingham mengenai masalah di lapangan sangat teknis: “Kami masih mencoba menyelesaikannya di dalam ruang ganti, terlepas dari kebisingan eksternal. Satu hal krusial adalah manajemen permainan (game management). Di titik-titik tertentu di mana kami harus menderita, kami selalu kebobolan, yang memaksa kami bermain dengan cara yang tidak kami inginkan.”
Ini mengindikasikan bahwa masalah Real Madrid saat ini lebih bersifat struktural dan taktis—ketidakmampuan mempertahankan bentuk saat di bawah tekanan—daripada masalah motivasi.
Perspektif Musim: Harapan Belum Hilang Secara Matematis
Meskipun narasi krisis mendominasi, analisis tabel klasemen menunjukkan bahwa musim Real Madrid jauh dari kata selesai.
- La Liga: Pemimpin klasemen Barcelona hanya unggul empat poin setelah 16 pertandingan, sebuah selisih yang secara statistik masih sangat mungkin dikejar.
- Liga Champions: Meskipun kalah dari City, Real Madrid tetap berada di posisi delapan besar klasemen fase grup, menjaga peluang lolos otomatis tetap hidup.
Kontras performa ini sangat tajam jika dibandingkan dengan awal musim. Alonso memulai dengan metrik yang hampir sempurna: 15 kemenangan dari 16 pertandingan pertama, termasuk kemenangan taktis 2-1 atas Barcelona di El Clasico pada bulan Oktober.
Titik Balik: Analisis Penurunan Performa
Tren penurunan performa saat ini dapat dilacak kembali ke kekalahan melawan Liverpool. Meskipun skor akhir hanya 1-0, data penguasaan bola dan penciptaan peluang menunjukkan bahwa Real Madrid kalah kelas saat Alonso kembali ke Anfield.
Sejak titik infleksi tersebut, konsistensi tim menjadi sangat fluktuatif:
- Kemenangan tipis atas Olympiakos.
- Kemenangan nyaman di Athletic Club.
- Hasil imbang melawan tim-tim dengan blok pertahanan rendah: Elche, Rayo Vallecano, dan Girona.
- Kekalahan kandang beruntun dari Celta Vigo dan Manchester City.
Presiden Florentino Perez dikenal memprioritaskan hasil akhir di atas metrik kinerja yang mendasari (underlying metrics). Alonso, yang pernah bermain di bawah tekanan ini, memahami bahwa peningkatan kualitas permainan saat melawan City tidak akan cukup jika kolom hasil menunjukkan kekalahan.
“Performanya sangat intens, sangat profesional,” analisis Alonso pasca-pertandingan. “Kami tahu ini adalah pertandingan level Liga Champions, dan mereka telah memberikan yang terbaik. Dari sisi saya, tidak ada keluhan sama sekali. Sulit menerima kekalahan lagi, tapi kami telah mencoba sampai akhir.”
Benturan Filosofi: Sistem vs Individu
Tantangan terbesar Alonso tampaknya adalah implementasi metodologi. Ide-idenya, yang membawa kesuksesan tak terkalahkan (double winner) di Bayer Leverkusen pada 2023/24, lebih selaras dengan pendekatan sistemik Pep Guardiola daripada pendekatan manajemen ego ala Carlo Ancelotti atau Zinedine Zidane.
Alonso adalah manajer tipe modern yang menuntut kontribusi universal dalam fase menyerang dan bertahan. Pendekatan kolektif ini sering kali bergesekan dengan budaya “Galactico” Real Madrid yang historisnya mengandalkan kecemerlangan individu. Reaksi negatif Vinicius Junior saat diganti dalam kemenangan El Clasico adalah indikator awal dari gesekan transisi ini, dan laporan media Spanyol menunjukkan bahwa ketegangan adaptasi sistem ini belum sepenuhnya mereda.
Kesimpulan AIBall.World
Xabi Alonso memiliki kualitas taktis yang tidak diragukan lagi; data dari Leverkusen adalah bukti empirisnya. Namun, pertanyaan besarnya adalah mengenai kesesuaian budaya dan waktu. Di Real Madrid, evolusi taktis harus berjalan seiring dengan kemenangan instan. Jika Alonso tidak segera menemukan keseimbangan antara sistem modernnya dan karakteristik unik skuad Madrid, data historis menunjukkan bahwa masa jabatannya di Bernabeu mungkin akan berakhir lebih cepat dari yang diprediksi model mana pun.