Masa Depan Liga 1 2027: Bukan Hanya Soal 18 atau 20 Tim, Tapi Evolusi Ekosistem | Analisis aiball.world

Pada Juni 2024, Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengumumkan sebuah keputusan yang mungkin terlewatkan di tengah hiruk-pikuk transfer musim panas: PSSI dan PT LIB telah menyepakati kalender kompetisi Liga 1 hingga musim 2027. Ini bukan sekadar jadwal; ini adalah peta jalan yang membekukan tiga musim ke depan sebagai laboratorium untuk transformasi terbesar liga kita. Pertanyaannya bukan lagi apakah Liga 1 akan berubah pada 2027, tetapi bagaimana evolusi yang telah dimulai sejak hari ini—dari ruang taktik hingga pusat data—akan mengkristal menjadi cetak biru kompetisi yang baru.

Menuju Liga 1 2027: Evolusi akan berpusat pada (1) format kompetisi yang stabil namun adaptif, (2) adopsi teknologi solutif (VAR & data), dan (3) penguatan ekosistem piramida (Liga 4 & SDM).

Sebagai mantan analis yang hidup dari data, saya melihat 2027 bukan sebagai garis start, melainkan garis finish dari sebuah lomba estafet multi-sektor. Mari kita telusuri lintasannya.

The Narrative: Posisi Saat Ini dan Tegangan yang Harus Diselesaikan

Liga 1 hari ini adalah kumpulan paradoks yang menarik. Di satu sisi, antusiasme penggemar nyata: rata-rata kehadiran penonton musim 2025/26 mencapai 7.149, dengan Jakarta International Stadium (JIS) menjadi magnet utama yang menarik rata-rata 24.085 suporter per laga kandang Persija. Di sisi lain, kompetisi masih didominasi segelintir klub; Persib Bandung baru saja meraih gelar keempatnya dengan 74 poin, mengukuhkan siklus juara yang berputar di antara nama-nama besar.

Tegangan ini—antara potensi komersial yang besar dan ketimpangan kompetitif, antara hasrat massa dan hasil yang bisa diprediksi—adalah konteks di mana setiap wacana reformasi harus dinilai. Tujuan akhirnya jelas: menciptakan liga terbaik di Asia Tenggara dan Asia. Namun, jalan menuju sana akan ditentukan oleh keputusan di tiga bidang utama: format kompetisi, adopsi teknologi, dan penguatan ekosistem piramida.

The Analysis Core: Tiga Pilar Menuju 2027

1. Peta Format 2027: Antara Stabilitas dan Terobosan

Perdebatan publik sering terjebak pada angka: 18 tim atau 20 tim? Data dan pengalaman regional menawarkan pelajaran yang lebih bernuansa.

Stabilitas yang Diuji: Championship Series. Keputusan PSSI mempertahankan format Championship Series untuk musim 2024-2025 bukan tanpa alasan. Seperti diungkapkan pelatih Bali United Stefano ‘Teco’ Cugurra, format ini menciptakan “pertandingan yang sangat menarik” hingga pekan terakhir, menjaga ketegangan dan relevansi dukungan suporter. Ini adalah fondasi yang baik. Namun, stabilitas format harus diimbangi dengan stabilitas regulasi. Keresahan klub seperti Bali United yang menunggu kepastian aturan pemain asing sebelum merekrut menunjukkan betapa rumor dan klarifikasi yang berlarut-larut dapat mengganggu perencanaan kompetitif.

Cermin ASEAN: Belajar dari Kesuksesan dan Kegagalan Tetangga. Perbandingan dengan liga tetangga memberikan perspektif berharga:

  • Malaysia: Ekspansi cepat ke 18 tim (2023), lalu stabil di 16 tim (2024). Pelajaran: Pentingnya Reserve League untuk pemain U-23.
  • Thailand: Format 16 tim stabil, namun krisis nilai siaran memicu #SAVETHAILEAGUE. Pelajaran: Stabilitas format ≠ kesehatan finansial.
  • Vietnam: Fleksibilitas dengan format playoff baru sebagai respons pandemi. Pelajaran: Adaptasi cepat dimungkinkan.

Masa Depan Format: Evaluasi Proposal Radikal. Wacana penambahan peserta menjadi 20 tim telah secara resmi dibantah, dengan penegasan bahwa perubahan apa pun harus melalui proses kongres. Di luar angka, muncul proposal lebih radikal seperti format kompetisi tiga wilayah (barat, tengah, timur) yang diusulkan pengamat Yusuf ‘Bung Yuke’ Kurniawan. Analisis saya terhadap usulan ini berfokus pada tiga pertanyaan kritis: (1) Apakah akan meningkatkan kualitas pertandingan atau justru mengorbankannya demi efisiensi perjalanan? (2) Bagaimana dampaknya terhadap exposure pemain muda? (3) Apakah selaras dengan tujuan Project 2034 dan penguatan Timnas? Tanpa jawaban memuaskan, perubahan format hanya akan menjadi permainan kursi musik.

2. Inovasi di Lapangan Hijau dan Belakang Layar

Inovasi di Liga 1 masa depan bukan tentang gadget tercanggih, tetapi tentang solusi teknologi yang menjawab masalah spesifik kita.

VAR: Transparansi yang Masih dalam Masa Belajar. Kehadiran VAR di 11 pekan pertama musim 2024/25 membawa transparansi yang dibutuhkan: 412 kali pengecekan, 7 keputusan penalti dibatalkan, dan 11 kartu merah yang diberikan setelah intervensi. Namun, seperti diakui Cugurra, teknologi ini juga membawa “waktu belajar” dan tantangan komunikasi antara wasit VAR dan wasit lapangan. Prediksi untuk 2027: bukan tentang menambah fitur VAR, tetapi tentang mematangkan operasionalnya. Proses pengecekan akan lebih cepat, komunikasi lebih jelas, dan penerimaan pemain serta pelatih lebih baik—sebagai bagian alami dari pertandingan.

Revolusi Data: Menutup Kesenjangan Analitis yang Menganga. Di sinilah salah satu transformasi paling mendasar sedang terjadi. Saat klub Premier League rata-rata memiliki 5-6 analis, sebagian besar klub Liga 1 hanya mengandalkan 1 orang untuk semua fungsi. Kesenjangan ini adalah penghambat utama peningkatan kualitas taktis dan rekrutmen. Inisiatif seperti Sekolah Analis Batch 1 oleh Lapangbola adalah jawaban tepat sasaran. Dengan melibatkan praktisi seperti Dzikry Lazuardi (Persija) dan Fery Muchlas (Bali United), program ini membekali 50 peserta pertama dengan keterampilan analisis video, scouting, dan business intelligence. Hasil survei menunjukkan 96% peserta merasa kepercayaan diri mereka meningkat signifikan.

Prediksi untuk 2027: klub-klub top Liga 1 akan memiliki setidaknya 2-3 analis penuh waktu. Laporan data tidak lagi sekadar pelengkap, tetapi menjadi dasar pengambilan keputusan transfer, penyusunan strategi lawan, dan pemantauan perkembangan pemain muda. Ini akan menjadi game-changer untuk kualitas liga dan pasokan bakat bagi Timnas.

Inovasi Komersial & Fan Engagement: Pelajaran Kreatif dari Tetangga. Inovasi juga bisa datang dari ranah hiburan dan komersial. Thailand telah sukses dengan Thai League All-Star, mengundang klub raksasa Eropa untuk bertanding melawan bintang-bintang lokal, menciptakan event promosi dan pendapatan yang masif. Vietnam melangkah lebih jauh dengan mengintegrasikan esports melalui FC Online Vietnam Pro League (FVPL), menarik audiens muda dengan prize pool kumulatif ratusan ribu dolar. Pertanyaannya untuk Liga 1: event atau platform digital seperti apa yang bisa kita kembangkan yang autentik dengan budaya suporter Indonesia, sekaligus membuka aliran pendapatan baru?

3. Fondasi yang (Harus) Dibangun: Dari Liga 4 hingga SDM

Visi 2027 akan runtuh jika hanya berfokus pada puncak piramida. Masa depan liga ditentukan oleh kekuatan fondasinya.

Liga 4 dan Penguatan Basis Regional. Rencana pembentukan Liga 4 yang diumumkan Thohir adalah sinyal penting. Ini adalah jalur vital untuk “mencari bibit-bibit baru” dari akar rumput. Evaluasi yang dilakukan Direktur Kompetisi PSSI Albin Laurent usai Liga 4 Piala Gubernur NTT—yang menyoroti peningkatan infrastruktur, SDM pelatih, dan manajemen klub—adalah contoh konkret perhatian yang dibutuhkan. Liga 1 yang sehat memerlukan sistem promosi/degradasi yang hidup, didukung oleh kompetisi regional yang terstruktur dan kompetitif.

Investasi SDM: Analis, Pelatih, dan Manajer. Program Sekolah Analis hanyalah satu contoh. Membangun liga berkelas ASEAN membutuhkan investasi paralel pada sekolah pelatih, manajer klub, dan bahkan spesialis kinerja pemain. Tenaga terampil inilah yang akan menjalankan mesin kompetisi yang lebih kompleks dan berbasis data di masa depan.

The Implications: Liga seperti Apa yang Akan Kita Nikmati pada 2027?

Berdasarkan tren saat ini, Liga 1 edisi 2027 akan menjadi entitas yang:

  1. Lebih Terstruktur dan Stabil: Dengan format inti yang telah teruji (kemungkinan besar tetap 18 tim dengan Championship Series), tetapi dikelilingi oleh regulasi pendukung yang jelas untuk pemain asing, pemain muda, dan keberlanjutan finansial.
  2. Lebih Cerdas dan Transparan: Didorong oleh data di belakang layar dan dibantu teknologi seperti VAR yang lebih matang di lapangan. Keputusan akan lebih terinformasi, dari ruang direktur hingga bangku cadangan.
  3. Lebih Terhubung dengan Ekosistem: Integrasi yang lebih kuat dengan Liga 4 dan akademi, menciptakan jalur perkembangan pemain yang jelas. Kinerja liga akan secara langsung diukur kontribusinya terhadap pool pemain Timnas.
  4. Lebih Menghibur dan Terjangkau: Melalui inovasi konten digital dan engagement yang menarik generasi baru, sambil mempertahankan drama dan intensitas pertandingan yang dicintai suporter tradisional.

Bagi klub, era “survival by budget” akan berangsur berganti menjadi “survival by system”—sebuah sistem manajemen yang profesional, berbasis data, dan berorientasi pada pengembangan pemain. Bagi Shin Tae-yong atau siapa pun pelatih Timnas nanti, liga ini akan menjadi laboratorium seleksi yang jauh lebih kaya dan transparan.

The Final Whistle

Garis finish 2027 telah ditandai. Perlombaan untuk mendefinisikan ulang Liga 1 sudah dimulai. Kunci kemenangannya bukan pada spekulasi format yang paling fantastis, tetapi pada konsistensi kita membangun tiga pilar tersebut: penerapan teknologi yang solutif, regenerasi SDM yang masif, dan penguatan ekosistem dari dasar hingga puncak.

Ketika nanti kita melihat ke belakang, ukuran kesuksesan Liga 1 2027 mungkin bukan lagi sekadar “Persib atau Persija yang juara,” tetapi “berapa banyak pemain dan pelatih bertaraf ASEAN yang dihasilkan kompetisi ini untuk membawa nama Indonesia lebih jauh.”

Ini bukan sekadar wacana format; ini adalah pernyataan niat untuk mendefinisikan ulang sepak bola kompetitif Indonesia.


Tentang Penulis: Arif Wijaya adalah mantan analis data untuk klub Liga 1 top, yang kini menyalurkan kecintaannya pada sepak bola melalui tulisan. Ia menggabungkan pemahaman mendalam tentang evolusi taktik sepak bola Indonesia dengan hati seorang suporter yang tak pernah absen menyaksikan laga kandang Timnas selama satu dekade.