

Klasemen Sementara Liga 1 2026: Efisiensi Persib vs Paradoks xG | aiball.world Analysis

Oleh: Arif Wijaya
Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) baru saja berhenti bergemuruh, namun gema dari kemenangan tipis 1-0 Persib Bandung atas PSBS Biak masih terasa di setiap sudut obrolan suporter di media sosial. Sebagai mantan analis data klub, saya sering katakan bahwa skor akhir hanyalah permukaan dari sebuah samudera taktik yang dalam. Gol di menit ke-90 itu bukan sekadar keberuntungan; itu adalah manifestasi dari sebuah sistem yang dibangun oleh Bojan Hodak untuk menekan lawan hingga titik nadir.
Memasuki tanggal 28 Januari 2026, klasemen sementara Liga 1 menyuguhkan pemandangan yang membuat jantung berdegup kencang. Persib Bandung duduk di puncak dengan 41 poin dari 18 laga, namun bayang-bayang Borneo FC yang mengantongi 40 poin dan Persija Jakarta dengan 39 poin menunjukkan bahwa takhta ini sangat rapuh. Pertanyaannya sekarang: apakah keunggulan satu poin ini adalah bukti dominasi, ataukah sebuah anomali statistik yang menunggu untuk dikoreksi?
Ringkasan Analisis: Persib Bandung saat ini memimpin klasemen Liga 1 2026 dengan 41 poin setelah mengamankan kemenangan krusial 1-0 atas PSBS Biak. Meskipun berada di puncak, Maung Bandung dibayangi ketat oleh Borneo FC (40 poin) dan Persija Jakarta (39 poin). Data menunjukkan “Paradoks xG”, di mana Persib memimpin lewat efisiensi klinis meski kalah dalam penciptaan peluang berkualitas dibandingkan Dewa United (1.79 xG) dan Persebaya (1.76 xG). Status puncak ini akan diuji oleh kedalaman skuat dan adaptasi taktik di putaran kedua.
Narasi: Peta Kekuatan di Awal Putaran Kedua
Kita berada di titik krusial musim 2025/2026. Persib Bandung telah mengamankan gelar “Juara Paruh Musim”, sebuah predikat yang secara historis memberikan dorongan psikologis besar di liga kita. Namun, musim ini berbeda. Kedalaman skuat dan aktivitas transfer yang agresif di jendela paruh musim telah mengubah peta kekuatan secara instan.
Pemandangan di papan atas tidak lagi didominasi oleh “Big Four” tradisional saja. Kehadiran Malut United di posisi ke-4 dengan 38 poin adalah bukti bahwa desentralisasi kekuatan sepak bola Indonesia sedang terjadi. Berikut adalah gambaran persaingan di papan atas klasemen saat ini:
| Klub | Main | Poin | xG per Pertandingan |
|---|---|---|---|
| Persib Bandung | 18 | 41 | 1.58 |
| Borneo FC | 18 | 40 | 1.65 |
| Persija Jakarta | 18 | 39 | 1.62 |
| Malut United | 18 | 38 | 1.48 |
| Dewa United | 18 | 29 | 1.79 |
Di sisi lain, kita melihat drama memilukan di papan bawah, di mana raksasa seperti PSM Makassar sedang berjuang keluar dari zona merah di bawah arahan pelatih baru, Tomas Trucha.
Analisis Inti: Bedah Taktik dan Data
1. Efisiensi vs. Ekspektasi: Paradoks xG
The data suggests a different story jika kita melihat melampaui kolom poin di klasemen. Berdasarkan data dari Lapangbola, penyedia statistik resmi Liga Indonesia, Persib memang memimpin liga, namun mereka bukanlah tim yang paling banyak menciptakan peluang berkualitas tinggi.
Data Expected Goals (xG) menunjukkan bahwa Dewa United (1.79 xG per pertandingan) dan Persebaya Surabaya (1.76 xG per pertandingan) sebenarnya memiliki proses serangan yang lebih sistematis dalam menempatkan pemain di posisi menembak yang ideal. Namun, mengapa mereka tertahan di papan tengah? Jawabannya adalah efisiensi.
Persib Bandung, di bawah asuhan Bojan Hodak, telah berevolusi menjadi tim yang sangat klinis. Mereka mungkin tidak mendominasi penguasaan bola secara absolut—seringkali hanya berkisar di angka 51% saat home berdasarkan data FootyStats —namun setiap transisi mereka dirancang untuk melukai lawan. Keberadaan pemain seperti Ciro Alves dan David Da Silva, meski sempat menjadi bahan perbincangan karena performa mereka di masa lalu, tetap menjadi ancaman nyata yang membuat Persib sering memenangkan laga dengan selisih satu gol.
2. Efek Layvin Kurzawa dan Revolusi Lini Belakang
Kedatangan Layvin Kurzawa ke Persib Bandung pada Januari 2026 bukan sekadar aksi pemasaran untuk meningkatkan jumlah pengikut di Instagram. Dari perspektif analisis data, profil Kurzawa sebagai bek kiri modern memberikan dimensi progressive carries yang selama ini hilang dari permainan Maung Bandung. Aktivitas bursa transfer Liga 1 di jendela ini memang sangat dinamis.
Kurzawa membawa standar Eropa dalam hal penempatan posisi. Dalam laga debutnya, terlihat bagaimana ia tidak hanya statis di lini belakang, tetapi mampu menjadi pivot tambahan saat tim membangun serangan dari bawah. Hal ini sangat krusial bagi Bojan Hodak yang ingin timnya memiliki struktur pertahanan yang sulit ditembus namun eksplosif saat melakukan serangan balik. Kehadiran pemain dengan profil seperti ini meningkatkan standar taktis di Liga 1 secara keseluruhan, memaksa pelatih lawan untuk berpikir dua kali sebelum menerapkan high-press.
3. Di Balik Lonjakan Malut United dan Stabilitas Borneo FC
Kita tidak boleh hanya terpaku pada Persib dan Persija. Borneo FC tetap menjadi penantang paling stabil musim ini. Salah satu kunci sukses mereka adalah performa konsisten dari Mariano Peralta Bauer. Dengan rating rata-rata 8.11—tertinggi di liga saat ini menurut data SofaScore—Mariano Peralta Bauer adalah motor serangan yang membuat Borneo FC mampu menjaga selisih hanya satu poin dari puncak klasemen.
Sementara itu, Malut United di posisi ke-4 adalah cerita sukses pengembangan talenta regional yang dipadukan dengan manajemen yang sehat. Mereka membuktikan bahwa dengan sistem pemanduan bakat yang tepat, tim promosi atau tim regional mampu merusak hegemoni klub-klub besar di Jawa. Ini adalah sinyal positif bagi ekosistem Liga 1.
Implikasi: Alarm untuk Timnas dan Bursa Transfer
Performa di liga domestik selalu memiliki korelasi langsung dengan kekuatan Timnas Indonesia. Namun, berita mengejutkan datang pada 28 Januari 2026 ini: bek kanan andalan sekaligus kapten kita, Asnawi Mangkualam, dikonfirmasi harus absen hingga akhir musim karena cedera parah yang memerlukan operasi.
Ini adalah pukulan telak bagi Shin Tae-yong. A closer look at the tactical shape reveals bahwa kehilangan Asnawi bukan hanya kehilangan seorang bek, tapi kehilangan mesin penggerak di sisi kanan. Kini, mata sang pelatih Timnas pasti tertuju tajam pada Liga 1. Apakah Allano dari Persija, yang memiliki rating impresif 7.79, atau mungkin bek muda dari akademi PSSI yang bersinar di Borneo FC bisa mengisi lubang tersebut?
Selain itu, aktivitas transfer di jendela paruh musim masih sangat cair. Persija Jakarta sendiri telah merekrut empat pemain baru untuk memperkuat kedalaman skuat mereka guna mengejar selisih dua poin dari Persib. Dengan rata-rata 2.61 gol per pertandingan musim ini berdasarkan statistik Liga 1, agresivitas di bursa transfer menunjukkan bahwa tim-tim papan atas menyadari bahwa gelar juara akan ditentukan oleh siapa yang memiliki bangku cadangan paling berkualitas.
Analisis Papan Bawah: Krisis PSM Makassar
Sangat menyedihkan melihat PSM Makassar terjebak di dekat zona degradasi. Meskipun mereka memiliki rata-rata xG per game yang cukup tinggi yaitu 1.38, ada masalah mendasar dalam penyelesaian akhir dan mentalitas bertanding. Tomas Trucha memiliki tugas berat untuk mengubah dominasi statistik menjadi poin nyata.
Kekalahan terbaru dari Persijap Jepara menunjukkan bahwa PSM kehilangan identitas “Pasukan Ramang” yang biasanya tangguh dalam duel-duel fisik. Dalam analisis saya, masalah PSM adalah kegagalan dalam beradaptasi dengan intensitas taktis lawan yang kini jauh lebih modern. Jika mereka tidak segera berbenah, salah satu klub tertua dan paling bersejarah di Indonesia ini bisa benar-benar terperosok ke jurang degradasi.
Peluit Akhir: Menatap Pekan ke-19
Klasemen per hari ini hanyalah potret diam dari sebuah kompetisi yang bergerak dinamis. Pekan ke-19 yang akan segera bergulir menyajikan dua big match yang berpotensi mengubah total susunan lima besar:
| Pertandingan | Jadwal | Implikasi Klasemen |
|---|---|---|
| Persita vs Persija | 30 Jan 2026 | Persija berpeluang naik ke posisi 2 jika menang dan Borneo tergelincir. |
| Persis vs Persib | 31 Jan 2026 | Ujian konsistensi Persib di laga tandang untuk mempertahankan puncak. |
The xG timeline tells us bahwa pertandingan di Liga 1 kini semakin sulit diprediksi. Gol menit akhir seperti yang terjadi pada laga Dewa United—di mana kiper Sonny Stevens bahkan ikut mencetak gol berdasarkan akun statistik Liga 1 —menjadi bukti bahwa gairah dan determinasi masih menjadi variabel yang tidak bisa sepenuhnya dibaca oleh data.
Sebagai penutup, dominasi Persib Bandung saat ini adalah hasil dari efisiensi yang luar biasa, namun mereka tidak boleh lengah. Dengan absennya Asnawi Mangkualam di level Timnas, performa bek-bek kanan di Liga 1 dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi sorotan utama.
Menurut Anda, apakah Persib mampu mempertahankan efisiensinya saat bertandang ke Manahan melawan Persis Solo nanti? Atau mampukah Persija memanfaatkan momentum transfer mereka untuk melakukan kudeta di puncak klasemen?
Mari kita terus kawal sepak bola kita dengan data, taktik, dan tentu saja, hati.
Tentang Penulis: Arif Wijaya adalah seorang mantan analis data untuk klub papan atas Liga 1. Kini, Arif menyalurkan hasratnya terhadap sepak bola melalui tulisan yang menggabungkan pemahaman mendalam tentang evolusi taktik sepak bola Indonesia dengan hati seorang suporter, setelah tidak pernah melewatkan pertandingan kandang Timnas selama satu dekade. Untuk membaca lebih banyak analisis mendalam seperti ini, kunjungi situs kami.
Langkah selanjutnya: Jika Anda ingin analisis lebih mendalam mengenai calon pengganti Asnawi Mangkualam di Timnas berdasarkan data performa di Liga 1 bulan ini, silakan beri tahu saya!