Klasemen BRI Liga 1 2024-2026: Perbandingan Musim dan Analisis Tren

20 Januari 2026

A conceptual illustration contrasting long-term team building projects (symbolized by a calm coach and tactical plans) with disruptive new financial power (symbolized by golden shockwaves).

Klasemen BRI Liga 1 2024-2026: Perbandingan Musim dan Analisis Tren | aiball.world Analysis

A dramatic conceptual illustration of the shifting power dynamics in BRI Liga 1 between the 2024/25 and 2025/26 seasons, showing rising and falling clubs.

Featured Hook: Dua Musim, Satu Cerita yang Berbeda

Bayangkan dua snapshot klasemen BRI Liga 1. Yang pertama, akhir musim 2024/2025: Persib Bandung, Persija Jakarta, dan PSM Makassar kokoh di puncak berdasarkan data historis [^3]. Sekarang, lihat klasemen musim 2025/2026 setelah 17 pekan: Persib masih di atas, tetapi Borneo FC dan Malut United FC telah mendesak masuk ke zona papan atas, sementara PSM tercecer di posisi ke-12 [^5]. Pergeseran ini bukan sekadar fluktuasi angka. Ini adalah cerita tentang proyek jangka panjang yang berbuah, turbulensi kepemimpinan yang mahal, dan guncangan yang dibawa oleh kekuatan finansial baru. Apa yang sebenarnya terjadi di balik reshuffle kekuatan ini? Apakah ini pertanda perubahan lanskap permanen Liga 1, atau hanya gejolak musiman belaka? Melampaui angka mentah, kita akan menggali konteks taktis, stabilitas kepemimpinan, dan realitas keuangan yang membentuk narasi sebenarnya di balik dua klasemen ini.

The Narrative: Setting the Scene

Musim 2024/2025 ditutup dengan narasi yang familiar: dominasi klub-klub dengan basis suporter masif dan sejarah panjang. Namun, memasuki paruh pertama musim 2025/2026, peta itu mulai retak. Persib, dengan 38 poin, mempertahankan konsistensi mereka [^5]. Namun, kejutan datang dari Borneo FC (37 poin) yang mengintai ketat, dan terutama dari Malut United (34 poin) yang menduduki posisi keempat . Di sisi lain, PSM Makassar, juara bertahan Piala Presiden dan peringkat tiga musim lalu, kini terperangkap di paruh tengah klasemen dengan hanya 19 poin . Perubahan drastis ini mengajukan pertanyaan mendasar: apakah kesuksesan di Liga 1 modern masih bisa diraih hanya dengan tradisi dan passion, ataukah kini dibutuhkan formula yang lebih kompleks—gabungan dari strategi rekrutmen yang cerdas, stabilitas manajerial, dan kesehatan finansial?

Snapshot Pergeseran Kekuatan:

KlubPosisi 2024/25Posisi 2025/26 (Pekan 17)Catatan
Persib Bandung11Konsistensi proyek perombakan skuad.
PSM Makassar312Turbulensi sistemik: ganti pelatih & sanksi FIFA.
Borneo FC2Pendatang baru dengan formula yang tepat.
Malut United FC4Kekuatan finansial baru yang mengganggu hierarki.

The Analysis Core: Membaca Ulang Peta Kekuatan

1. Peta Kekuatan Baru: Proyek vs. Instan vs. Turbulensi

Persib Bandung: Cetak Biru Kesuksesan yang Disengaja
Posisi puncak Persib bukanlah kebetulan. Ini adalah hasil dari proyek perombakan yang disadari sepenuhnya oleh pelatih Bojan Hodak. Seperti diungkapkannya dalam sebuah wawancara menjelang musim, musim ini ditandai dengan “perombakan skuad besar-besaran” dan fokus pada rekrutan “pemain yang lebih muda” [^11]. Strategi ini, yang mungkin berisiko, justru membuahkan hasil berupa tim yang dinamis dan lapar. Kunci lain adalah pemahaman akan peran spesialis. Hodak dengan gamblang menyebut Dedi Kusnandar sebagai pemain yang melakukan “pekerjaan kotor”—sebuah peran vital dalam merebut bola dan menjaga keseimbangan tim yang sering diabaikan [^14]. “Tidak bisa memiliki 10 Maradona di dalam tim,” kata Hodak, menekankan pentingnya pemain seperti Kusnandar yang bersedia berlari dan bertahan [^14]. Inilah fondasi taktis yang memungkinkan bakat-bakat muda bersinar.

Kebangkitan Borneo & Gelombang Malut: Modal Baru di Papan Atas
Kemunculan Borneo FC dan Malut United FC menandai era baru. Borneo tampaknya telah menemukan formula yang tepat antara pengalaman dan energi. Namun, fenomena Malut lebih menarik. Hodak sendiri dengan blak-blakan menyebut mereka sebagai “pesaing nomor satu” dengan alasan sederhana namun powerful: “Lihatlah, Malut memiliki banyak uang, mereka membeli pemain top” [^11]. Kehadiran Malut di posisi empat adalah bukti nyata bagaimana kekuatan finansial yang agresif dapat dengan cepat mengubah hierarki tradisional. Mereka bukan lagi underdog; mereka adalah new money yang siap mengganggu kestabilan “Big Four”.

PSM & Arema: Studi Kasus Turbulensi Sistemik
Di sisi lain, penurunan PSM Makassar dari posisi tiga ke 12 adalah contoh klasik keruntuhan sistemik. Ini bukan sekadar masalah formasi atau cedera. Rantai masalah dimulai dari bangku kepelatihan dengan pergantian dari Eduardo Almeida ke Dejan Antonic di Oktober 2025 [^7], diperparah oleh sanksi larangan transfer FIFA akibat masalah keuangan [^8]. Arema Cronus juga mengalami nasib serupa dengan pergantian pelatih dari Kim Swee Ong ke Marcos Reina [^7], yang tercermin pada posisi mereka di urutan 10. Takeaway untuk Debat: Jangan buru-buru menyalahkan striker yang gagal mencetak gol atau bek yang blunder. Lihat dulu kekacauan di ruang direksi dan bangku cadangan. Performa buruk seringkali adalah gejala, bukan penyakitnya.

2. Bangku Pelatih: Kursi Panas dan Harga Sebuah Ketidakstabilan

A symbolic and atmospheric image of a burning, empty coach's seat on the sidelines, representing the instability and 'hot seat' nature of managerial changes in Liga 1.

Data dari paruh musim 2025/2026 sungguh mencengangkan: minimal delapan klub telah mengganti pelatih kepala mereka [^7]. Ini termasuk klub-klub papan atas seperti Persebaya Surabaya (Edu Pérez digantikan Uston Nawawi) dan Bhayangkara Presisi Indonesia . Frekuensi pergantian yang tinggi ini bukan sekadar trivia; ini adalah indikator akut dari ketidakstabilan dan tekanan hasil jangka pendek yang mencekik.

Setiap pergantian pelatih membawa serta perubahan filosofi, pola latihan, dan preferensi pemain. Bayangkan seorang pemain yang direkrut untuk sistem pressing tinggi Almeida di PSM, tiba-tiba harus beradaptasi dengan gaya Antonic dalam hitungan minggu. Konsistensi performa menjadi mustahil. Takeaway untuk Debat: Stabilitas kepemimpinan ternyata masih menjadi barang mewah di Liga 1, dan harganya dibayar tunai dengan poin yang hilang di tengah masa adaptasi. Klub seperti Persib yang mempertahankan Hodak menuai manfaat dari kontinuitas tersebut.

3. Lanskap Eksternal: Aturan Baru dan Perang Dingin Keuangan

Pertarungan di Liga 1 tidak lagi hanya 90 menit di lapangan. Dua faktor eksternal besar membentuk musim ini:

Regulasi 11-9-7 dan Kewajiban U-23: Regulasi pemain asing baru (11 boleh dikontrak, 9 di DSP, 7 dimainkan) serta kewajiban starter U-23 [^15] telah mengubah permainan strategi. Hodak berargumen aturan ini membuat liga “lebih kuat” jika kualitas pemain asingnya bagus, yang pada akhirnya menguntungkan Timnas . Namun, aturan ini juga menguji kedalaman skuat dan kejelian scouting klub. Klub dengan proyek muda yang jelas (seperti Persib) mungkin lebih siap, sementara klub yang bergantung pada pemain asing bintang bisa kesulitan jika terjadi cedera.

Momok Masalah Keuangan: Wacana ini sering direduksi jadi gosip, tetapi dampaknya nyata dan menghancurkan. CEO PT LIB Ferry Paulus mengakui masalah tunggakan gaji di banyak klub, yang disebabkan keterlambatan sponsor dan pendapatan tiket yang minim [^8]. PSM dan Persik Kediri bahkan kena sanksi transfer ban dari FIFA . Bagaimana pemain bisa fokus memberikan performa terbaik jika pikiran mereka tertuju pada kebutuhan dasar keluarga yang tak terpenuhi? Takeaway untuk Debat: Ketika membahas underperformance, sertakan “kondisi keuangan klub” sebagai variabel analisis yang sah. Ini adalah “lawan tak terlihat” yang sama berbahayanya dengan tim dari kota rival.

The Implications: Dampak yang Beresonansi

Untuk Kompetisi: Liga 1 semakin tak terduga dan kompetitif. Dominasi tradisional terus digoyang oleh kekuatan baru yang punya modal dan strategi. Kompetisi untuk tempat di papan atas dan zona degradasi akan semakin sengit.

Untuk Timnas Indonesia: Pelatih John Herdman, yang dipuji karena keseriusannya menetap di Indonesia untuk memahami kultur sepak bola kita [^12], harus jeli membaca tren ini. Pemain U-23 mana yang benar-benar mendapat menit bermain berkualitas berkat aturan baru? Tim mana yang memainkan gaya pressing intensif atau penguasaan bola yang bisa menjadi laboratorium bagi pemain nasional? Performa konsisten pemain seperti Dedi Kusnandar di Persib juga menunjukkan tipe profil pemain yang dibutuhkan untuk menyeimbangkan skuat Timnas.

Untuk Musim Depan: Berdasarkan tren setengah musim ini, tim dengan proyek jangka panjang dan stabilitas manajerial (Persib, Borneo) akan tetap menjadi ancaman serius. Sebaliknya, klub yang tengah dilanda krisis keuangan dan pergantian pelatih berisiko terperosok lebih dalam, menjadikan paruh kedua musim sebagai pertarungan untuk bertahan.

The Final Whistle

Membandingkan dua musim BRI Liga 1 ini mengungkap sebuah kebenaran yang semakin jelas: kesuksesan di kancah domestik kita tidak lagi dicapai dengan cara-cara lama. Ini adalah hasil dari trinitas modern: strategi skuat yang visioner, stabilitas kepemimpinan di bench, dan kesehatan finansial di meja direksi. Persib merangkul perubahan dengan proyek peremajaan. Malut membeli jalan mereka ke puncak. Sementara itu, klub-klub yang terperangkap dalam siklus pergantian pelatih dan masalah keuangan tertatih-tatih.

Sebagai penggemar yang telah menyaksikan denyut nadi sepak bola Indonesia selama bertahun-tahun, memahami kompleksitas di balik sederet angka di klasemen justru membuat kita lebih menghargai setiap kemenangan, setiap poin yang diperebutkan dengan susah payah. Dengan setengah musim 2025/2026 masih tersisa, pertanyaannya adalah: apakah peta kekuatan yang baru terbentuk ini akan bertahan? Atau akankah kita menyaksikan kebangkitan dramatis dari mereka yang mampu mengatasi badai internal? Satu hal yang pasti: cerita di balik klasemen selalu lebih menarik daripada angka-angkanya sendiri.


About the Author: Arif Wijaya adalah mantan analis data untuk klub Liga 1 papan atas yang kini menyalurkan passion-nya pada sepak bola ke dalam tulisan. Ia menggabungkan pemahaman insider tentang evolusi taktis sepak bola Indonesia dengan hati seorang suporter yang tak pernah absen menyaksikan laga kandang Timnas selama satu dekade. Untuk analisis mendalam lainnya, kunjungi halaman tentang kami.

Riki Wirawan

Seorang sejarawan sepak bola dengan fokus mendalam pada evolusi Liga Indonesia dan Timnas. Riki membawa narasi kaya dari pertandingan klasik dan tokoh legendaris yang membentuk lanskap sepak bola nasional.

On This Page

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Keep Reading

Scroll to Top