Evolusi Taktis Aston Villa: Analisis Data di Balik Lonjakan Performa dan Ambisi Perebutan Gelar

Kebangkitan Aston Villa baru-baru ini, dengan torehan sembilan kemenangan dari sepuluh pertandingan terakhir, menjadi anomali yang menarik jika dibandingkan dengan kegagalan mereka meraih poin penuh di lima laga pembuka Premier League. Transformasi ini tidak terjadi secara instan dalam meyakinkan para analis. Performa mereka sempat dipertanyakan saat tampil kurang maksimal dalam laga kandang melawan Wolves beberapa waktu lalu.
Pasca kemenangan tipis tersebut, Unai Emery menghadapi kritik tajam terkait rendahnya ancaman gol timnya. Data Expected Goals (xG)—sebuah metrik prediktif yang mengukur kualitas peluang berdasarkan probabilitas konversi—menempatkan Villa di posisi tiga terbawah, meskipun hasil pertandingan mereka menunjukkan tren positif. Namun, dua laga terakhir telah mengubah perspektif berbasis data ini secara signifikan.
Kemenangan dramatis 4-3 atas Brighton di tengah pekan mencatatkan rekor xG tertinggi Villa sepanjang musim ini. Skuad asuhan Emery tersebut kemudian melanjutkan konsistensi mereka dengan menunjukkan kreativitas tingkat tinggi saat menghadapi pemuncak klasemen.
Secara individual, model performa menunjukkan bahwa Ollie Watkins dan Donyell Malen kini berada dalam fase puncak (in-form). Kehadiran Morgan Rogers yang agresif saat menekan pertahanan Arsenal memberikan dimensi serangan baru, sementara gol penentu dari Emiliano Buendia yang masuk dari bangku cadangan membuktikan kedalaman skuad (squad depth) yang kini dimiliki Emery.
Pertanyaan krusialnya: Apakah mereka sudah layak disebut penantang gelar? Mikel Arteta secara tersirat mengakui posisi Villa yang naik ke peringkat kedua sebagai cerminan dari dinamika liga saat ini. Sebaliknya, Emery tetap bersikap pragmatis dan menjaga ekspektasi publik.
“Saya tidak memikirkan hal itu,” jawab Emery dalam konferensi pers saat menanggapi komentar Arteta. “Satu musim terdiri dari 38 pertandingan, dan itu sangat sulit. Kami bukan penantang gelar saat ini. Jika kami masih di posisi ini pada pekan ke-35, mungkin pembicaraannya akan berbeda.” Namun, realitas di lapangan menunjukkan potensi yang lebih besar.
Di tengah ketidakstabilan Liverpool serta kerentanan yang ditunjukkan Manchester City dan Chelsea, Villa baru saja memberikan pukulan telak kepada tim yang dianggap paling solid di Premier League. Jika faktor kebugaran dan penurunan performa mulai menghambat laju Arsenal, Aston Villa yang kini tampil lebih dewasa secara taktis memiliki peluang besar untuk mengisi celah di puncak klasemen, terlepas dari sikap rendah hati yang ditunjukkan manajer mereka.