
Peta Naturalisasi 2026: Dari Miliano hingga Ciro, Siapa Penambah Kekuatan Nyata untuk Timnas? | Analisis AIBall

Jika Anda adalah John Herdman, dan targetnya adalah mengalahkan Australia di Kualifikasi Piala Dunia, pemain naturalisasi atau keturunan mana yang akan Anda prioritaskan untuk dipanggil Maret mendatang? Pertanyaan ini bukan lagi sekadar retorika, melainkan pilihan strategis nyata yang dihadapi pelatih baru Timnas Indonesia. Di tengah persiapan FIFA Series 2026 dan sisa pertandingan Round 4 Kualifikasi Piala Dunia, peta kekuatan Timnas sedang mengalami pergeseran seismik.
Inti Analisis: Peta naturalisasi Timnas 2026 menunjukkan strategi terstruktur dengan fokus pada lini belakang. Pemain siap pakai seperti Emil Audero (kiper) dan Jay Idzes (bek) akan menjadi inti di era Herdman, sementara status Miliano Jonathans (RESMI) dan Ciro Alves (dalam proses) akan menentukan kedalaman serangan untuk FIFA Series. Proyek ini bergerak melampaui ‘jalan pintas’ menuju sourcing talenta sistematis, meski dilema integrasi dengan pemain lokal tetap ada.
Data dari Transfermarkt mengungkap fakta: dari 29 pemain dalam radar Timnas, 51.7% atau 15 di antaranya bermain di luar negeri [^11]. Ini bukan lagi tentang satu atau dua nama diaspora; ini tentang fondasi skuad. Namun, di balik angka-angka ini, muncul dilema yang diangkat oleh analisis ESPN: antara mengandalkan kekuatan instan pemain naturalisasi keturunan dan membangun fondasi jangka panjang pemain lokal [^22]. Komunitas penggemar di Reddit pun terbelah, antara melihat naturalisasi sebagai “jalan pintas yang diperlukan” dan kekhawatiran akan pengabaian terhadap Liga 1 dan pembinaan usia muda [^20].
Artikel ini bukan sekadar daftar nama. Ini adalah peta strategis yang memetakan setiap pemain naturalisasi dan keturunan berdasarkan status terkini, data performa, dan analisis kebutuhan taktis Timnas Indonesia di era John Herdman. Mari kita selami.
The Narrative: Mengatur Panggung di Era Herdman
John Herdman mengambil alih kemudi di tengah momen genting. Targetnya jelas: Piala Dunia 2026. Untuk mencapainya, Timnas harus tampil maksimal di FIFA Series Maret mendatang dan melanjutkan momentum di sisa Round 4 Kualifikasi. Herdman sendiri telah memberi isyarat terbuka untuk menambah pemain naturalisasi baru [^10], sementara media telah mengidentifikasi sejumlah nama naturalisasi sebagai calon andalan di era kepemimpinannya [^9].
Namun, konteksnya lebih kompleks. Skuad Timnas kini adalah campuran antara bintang-bintang muda hasil pembinaan Shin Tae-yong—seperti Marselino Ferdinan dan Rizky Ridho—dengan pemain naturalisasi yang telah menjadi tulang punggung [^22]. Rata-rata usia skuad adalah 27.3 tahun, dengan nilai pasar total mencapai Rp562.73 miliar [^11]. Pertanyaannya adalah: bagaimana menyeimbangkan antara memanfaatkan “kekuatan instan” yang ditawarkan naturalisasi dengan memastikan keberlanjutan dan pertumbuhan ekosistem sepak bola Indonesia dalam jangka panjang? Inilah “Dilema Herdman” yang akan membingkai setiap keputusan pemanggilan.
The Analysis Core: Memetakan Kekuatan Naturalisasi

1. Yang Sudah Siap Pakai – Andalan di Era Herdman
Kelompok ini adalah inti dari proyek naturalisasi. Mereka sudah memegang paspor Indonesia, memiliki pengalaman di level klub Eropa yang kompetitif, dan diyakini akan menjadi pilar utama Herdman.
- Emil Audero Mulyadi (Kiper, 28 tahun): Setelah awal yang terbatas di Como 1907 (Serie A), Audero pindah loan ke Palermo (Serie B) dan langsung menjadi pilihan utama, mencatatkan rekor 2 menang dan 3 imbang dari 5 penampilan [^13]. Kehadirannya memberikan opsi yang sangat berbeda dari kiper-kiper lokal: penguasaan area kotak penalti yang lebih dominan dan distribusi bola yang lebih terarah dari belakang. Dalam sistem Herdman yang mungkin mengutamakan build-up dari belakang, Audero bisa menjadi aset taktis penting.
- Jay Idzes (Bek Tengah, 24 tahun): Bek tengah Venezia ini adalah contoh sempurna hasil dari scouting sistematis PSSI yang berfokus pada pemain bertahan [^19]. Performanya yang solid di Serie B Italia—liga yang terkenal fisik dan taktis—menjadikannya kandidat kuat untuk mengisi posisi bek tengah utama. Kemampuannya dalam duel udara dan membaca permainan akan sangat berharga melawan tim-tim fisik seperti Australia.
- Ole Romeny & Kevin Diks: Duo yang bermain di Eredivisie Belanda ini membawa pengalaman dan kualitas teknis liga Eropa tingkat atas. Romeny, sebagai penyerang, menawarkan variasi gerakan dan finishing, sementara Diks memberikan opsi matang di sisi kanan pertahanan. Mereka adalah pemain yang, berdasarkan analisis Bola.com, diharapkan langsung berkontribusi [^9].
Kesimpulan Sementara: Garis pertahanan dan kiper Timnas mendapat peningkatan kualitas yang signifikan dari kelompok ini. Mereka bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan calon starter yang dapat mengubah standar pertahanan Timnas.
2. Di Garis Start – Proses Naturalisasi yang Sedang Berjalan
Inilah wilayah yang paling dinamis. Status mereka menentukan apakah Timnas bisa “turun full power” di FIFA Series 2026 [^15].
- Miliano Jonathans (Gelandang/Striker): Status: RESMI WNI. Prosesnya telah selesai dengan pengambilan sumpah pada 3 September 2025 [^7]. Ini menjadikannya pemain naturalisasi terbaru yang benar-benar siap pakai. Tantangannya kini adalah adaptasi taktis dan kimia dengan rekan setim. Herdman memiliki waktu singkat untuk mengintegrasikannya sebelum FIFA Series.
- Ciro Alves (Striker, Malut United): Status: DALAM PROSES. Pemain asal Brasil ini telah mengajukan permohonan naturalisasi sejak awal Desember 2025 [^6]. Dia memenuhi syarat tinggal 5 tahun (sejak 2019). Analisis Nilai Tambah (SWOT):
- Strength: Insting finisher di dalam kotak penalti, pengalaman sebagai pencetak gol di Liga 1.
- Weakness: Mobilitas untuk menerapkan pressing tinggi mungkin terbatas.
- Opportunity: Menjadi target man alternatif atau super-sub yang efektif di menit-menit akhir.
- Threat: Kompetisi dengan striker muda lokal seperti Rafael Struick yang mungkin lebih cocok dengan gaya permainan high-press.
- David da Silva (Striker, Persib Bandung): Status: MINAT/BELUM PROSES. Pemain ini secara terbuka menyatakan keinginannya untuk membela Timnas [^6]. Dengan karier tanpa putus di Indonesia sejak 2018, dia akan memenuhi syarat 5 tahun pada 2026. Komitmennya jelas, tetapi proses administrasi masih perlu dimulai.
Garis Waktu Kritis: Keberhasilan proses Ciro Alves akan sangat menentukan kedalaman skuad penyerangan Timnas untuk FIFA Series. Sementara David da Silva adalah investasi untuk paruh kedua 2026.
3. Wajah Lama, Nilai Baru? – Naturalisasi di Liga 1 yang Masih Relevan
Tidak semua pemain naturalisasi bermain di Eropa. Beberapa masih berkontribusi di Liga 1 dan kinerjanya patut dipertimbangkan, terutama untuk turnamen di luar FIFA Match Day seperti ASEAN Championship.
- Ezra Walian (Persik Kediri, 28 tahun): Dengan 4 gol dan 6 assist dalam 11 penampilan musim 2025/26, Walian menunjukkan produktivitas yang konsisten [^12]. Perannya kini lebih banyak di sayap, menawarkan fleksibilitas posisi yang mungkin berguna.
- Ilija Spasojevic (Bhayangkara FC, 38 tahun): Usianya sudah tinggi, tetapi 3 gol dalam 12 penampilan musim ini membuktikan instingnya di depan gawang masih tajam [^12]. Dia bisa menjadi pilihan pengalaman yang sangat spesifik.
- Stefano Lilipaly (Dewa United, 35 tahun): Meski produktivitas menurun (1 gol, 1 assist dalam 13 laga), pengalaman 33 caps untuk Timnas dan visinya tetap berharga . Keputusan untuk memanggilnya kembali akan sangat bergantung pada filosofi permainan Herdman.
Perspektif: Pemain-pemain ini adalah aset untuk menjaga kedalaman dan pengalaman skuad, terutama ketika pemain Eropa tidak tersedia. Mereka menjadi jembatan antara era naturalisasi awal dengan gelombang baru.
4. Laporan Intelijen: Potensi ‘Hidden Gem’ dan Yang Gagal
Peta ini tidak lengkap tanpa melihat potensi yang belum tergali dan kegagalan yang memberikan pelajaran.
- ‘Hidden Gems’ Eropa: Proses scouting PSSI yang digambarkan AnalyticsFC—meliputi penelitian silsilah mendalam, pengamatan minimal 3 pertandingan, dan analisis data—telah menemukan pemain seperti Maarten Paes (kiper FC Dallas) yang garis keturunannya berasal dari Kediri [^19]. Di luar nama-nama besar, ada pemain seperti Dean James (bek kiri Go Ahead Eagles, 2 gol 3 assist musim lalu [^13]) dan Joey Pelupessy (gelandang bertahan di Lommel SK, Belgia ) yang memiliki jam terbang tinggi di Eropa dan bisa menjadi solusi untuk posisi-posisi spesifik.
- Yang Gagal & Pelajarannya: Kasus Jairo Riedewald dkk yang batal dinaturalisasi mengingatkan kita pada kompleksitas aturan FIFA [^8]. Bukan setiap pemain keturunan secara otomatis memenuhi syarat. Kegagalan ini menyoroti pentingnya due diligence administrasi yang ketat sebelum proses hukum dimulai, sebuah langkah yang kini tampaknya lebih matang di bawah PSSI.
5. Analisis Kuantitatif: Seberapa Besar Dampak Mereka?
Lalu, bagaimana kontribusi mereka secara nyata? Mari kita lihat melalui lensa yang lebih terukur. Analisis dari Pandit Football menyoroti bahwa di Piala Asia 2023, tidak terlihat korelasi jelas antara jumlah pemain naturalisasi yang diturunkan dengan hasil pertandingan [^18]. Ini pertanyaan kritis: peningkatan kualitas individu belum tentu langsung terjemahkan menjadi kinerja tim yang lebih baik.
Untuk memahami nilai tambah mereka, kita perlu membandingkan dengan opsi lokal yang ada. Berikut gambaran perbandingan di beberapa posisi kunci (berdasarkan data performa klub):
| Posisi | Pemain (Naturalisasi/Target) | Liga/Klub | Metrik Kunci (Musim 2024/25 atau 2025/26) | Perbandingan dengan Opsi Lokal Utama |
|---|---|---|---|---|
| Kiper | Emil Audero | Palermo (Serie B) | 5 apps, 2 clean sheets, rata-rata 3.2 penyelamatan per game | Nadeo Argawinata: Pengalaman luas di Liga 1, distribusi bagus. Audero menawarkan pengalaman level Eropa & komando area kotak penalti yang mungkin lebih kuat. |
| Bek Tengah | Jay Idzes | Venezia (Serie B) | Data spesifik terbatas, tetapi regular starter di kompetisi fisik Serie B. | Rizky Ridho: Masa depan Timnas, agresif, pemimpin. Idzes membawa pengalaman taktis Eropa & kematangan dalam posisi. |
| Bek Kiri | Calvin Verdonk | NEC Nijmegen (Eredivisie) | Regular starter di level atas Belanda. | Pratama Arhan: Fisik & umpan silang khas, defensif kurang rapi. Verdonk menawarkan keseimbangan defensif-ofensif yang lebih terukur. |
| Striker | Ciro Alves | Malut United (Liga 1) | Data musim ini: produktivitas sebagai striker murni. | Rafael Struick: Muda, mobilitas tinggi, pressing intensif. Alves menawarkan finisher statis yang efisien di kotak penalti. |
Data di atas menunjukkan bahwa pemain naturalisasi tidak selalu “jauh lebih baik” dalam setiap aspek, tetapi mereka menawarkan profil yang berbeda dan pengalaman di lingkungan kompetisi yang seringkali lebih demanding. Kunci suksesnya terletak pada bagaimana Herdman memilih profil yang tepat untuk melengkapi, bukan sekadar menggantikan, kekuatan pemain lokal yang ada.
The Implications: Dampak yang Lebih Luas
Berdasarkan peta ini, John Herdman kemungkinan besar akan membangun inti pertahanan Timnas di FIFA Series 2026 di sekitar poros naturalisasi: Audero atau Maarten Paes di gawang, di depan mereka Idzes dan mungkin Diks atau Verdonk. Ini adalah peningkatan kualitas yang nyata di lini terbelakang.
Namun, dampaknya melampaui lapangan hijau. Gelombang naturalisasi ini menciptakan “Efek Ripple” yang kompleks:
- Motivasi vs. Ketersingkiran: Di satu sisi, kehadiran pemain berlevel Eropa dapat meningkatkan standar latihan dan memotivasi pemain lokal untuk berkompetisi lebih keras. Di sisi lain, ada risiko pemain muda berbakat seperti striker lokal tersingkir dari skuad inti, seperti yang diisyaratkan dalam perbandingan ASEAN Championship 2021 (skuat muda) dengan WCQ 2026 (skuat penuh diaspora) .
- Sinyal untuk Ekosistem: Proyek naturalisasi yang agresif harus berjalan beriringan dengan perbaikan infrastruktur Liga 1 dan sistem akademi. Jika tidak, seperti dikhawatirkan komunitas, kesuksesan dengan naturalisasi bisa dijadikan alasan untuk mengabaikan pembenahan akar rumput [^20].
- Scouting System adalah Kunci: Keberhasilan menemukan “hidden gems” seperti Maarten Paes menunjukkan bahwa Indonesia telah membangun sistem scouting diaspora yang sistematis . Ini adalah aset jangka panjang yang lebih penting daripada sekadar menambah satu atau dua nama. Sistem inilah yang akan memastikan pipeline talenta diaspora terus mengalir secara berkelanjutan.
The Final Whistle
Peta naturalisasi Timnas Indonesia di awal 2026 ini menggambarkan lanskap yang berlapis dan dinamis. Dari andalan siap pakai seperti Audero dan Idzes, hingga prospek seperti Ciro Alves yang sedang dalam proses, dan “wajah lama” di Liga 1 yang masih relevan. Ini bukan lagi proyek tambal sulam, melainkan strategi sourcing talenta yang terstruktur, meski penuh dilema.
Keberhasilan proyek ini tidak akan diukur hanya dari berapa banyak nama Belanda atau Brasil yang tercantum di paspor, tetapi dari bagaimana mereka berintegrasi, meningkatkan level permainan tim, dan—yang paling penting—apakah kehadiran mereka akhirnya membawa Timnas melangkah lebih jauh di panggung kualifikasi Piala Dunia.
Sebagai penutup, izinkan saya mengajukan pertanyaan yang sama yang mungkin bergelayut di benak John Herdman dan kita semua: Dengan peta ini di tangan, apakah Anda setuju bahwa proyek naturalisasi saat ini lebih menyerupai ‘strategi jangka menengah yang terstruktur’ atau sekadar ‘perlombaan mencari jalan pintas’? Jawaban atas pertanyaan ini akan sangat menentukan narasi dan arah sepak bola Indonesia di tahun-tahun mendatang. Suara Anda, sebagai penggemar yang paling memahami denyut nadi sepak bola tanah air, adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan ini.
Tentang Penulis: Arif Wijaya adalah mantan analis data untuk klub Liga 1 papan atas yang kini menyalurkan passion-nya pada sepak bola ke dalam tulisan. Ia menggabungkan pemahaman insider tentang evolusi taktik sepak bola Indonesia dengan hati seorang penggemar yang tak pernah absen menyaksikan laga kandang Timnas selama satu dekade.